Sejarah: Perjalanan Menuju Gelar Dokter Zaman Hindia Belanda, Sekolah Di STOVIA Setara Lulusan Eropa

AKURAT JAKARTA - Dulu, kuliah untuk menjadi dokter tak seperti sekarang. Di masa lalu, cukup bersekolah di STOVIA, yang menjadikan ijazah kelulusan setara dengan dokter-dokter Eropa. Tetapi, bagaimana mungkin hal ini terjadi?
Sebelum abad ke-19, akses kesehatan belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat sipil di Hindia Belanda, terutama bagi kaum pribumi yang masih sangat bergantung pada dukun. Dokter sipil sangat langka pada saat itu.
Semua berubah pada tahun 1847 ketika terjadi epidemi menular di Jawa Tengah. Kepala Dinas Kesehatan Hindia Belanda, Willem Bosch, mendesak pemerintah untuk mendidik kaum pribumi menjadi dokter agar mereka bisa menjadi tenaga kesehatan dan vaksinator di daerah masing-masing.
Pemerintah mendukung ide Bosch, dan pada 1 Januari 1851, mereka mendirikan School ter Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen di Batavia, yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Dokter Jawa.
Baca Juga: Rekomendasi 7 Film Action untuk Ditonton di Netflix Mengisi Akhir Pekan Ini
Pada awalnya, kurikulum Sekolah Dokter Jawa tidak fokus pada kondisi masyarakat lokal. Para siswa hanya belajar tentang ramuan obat-obatan herbal. Meskipun begitu, lulusan sekolah ini berperan penting dalam mengatasi wabah dan bekerja sebagai tenaga vaksinator dan di klinik.
Pemerintah Hindia Belanda terus mengembangkan kurikulum dan pada tahun 1902, sekolah ini berganti nama menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), dan gelar dokter Jawa berubah menjadi Inlandsche Arts.
Lulusan STOVIA memiliki tingkat pengetahuan setara dengan sarjana Eropa. Mereka menghadapi seleksi ketat untuk masuk ke sekolah ini dan tinggal di asrama.
Kurikulum STOVIA disesuaikan dengan sekolah serupa di Belanda, dengan masa belajar yang lebih lama, yaitu sembilan tahun.
Mayoritas lulusan STOVIA menjadi pegawai pemerintah dan ditugaskan di daerah terpencil untuk mengatasi penyakit menular.
Baca Juga: Catat! Ini 4 Hal yang Harus Dilakukan untuk Mengendalikan Emosi, Dijamin Perasaan Jadi Lebih Plong!
Beberapa lulusan STOVIA juga berperan dalam sejarah pergerakan dan kemerdekaan Indonesia, termasuk tokoh seperti Wahidin Soedirohusodo, Radjiman Wedyodiningrat, Cipto Mangunkusumo, hingga Ki Hajar Dewantara.
Bahkan Tirto Adie Soerjo, Bapak Pers Nasional, yang awalnya belajar di STOVIA sebelum memilih jalan jurnalisme. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 4Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 5Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 6Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 7Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 8Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs FC Nurnberg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Die Werkself Taklukan Tim Kasta Kedua dengan Mudah?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!








