Sejarah Jakarta: Asal Usul Duri Kepa dari Hutan Lebat

AKURAT JAKARTA - Duri Kepa merupakan salah satu kawasan yang cukup populer dan strategis, yang masuk ke Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Kawasan ini merupakan kawasan padat penduduk. Banyak perkantoran dan pemukiman warga memenuhi Duri Kepa.
Jika melihat sejarah, asal usul Duri Kepa berkaitan dengan tumbuhan atau yang banyak tumbuh di kawasan itu pada masa lalu.
Baca Juga: Sejarah: Perjalanan Menuju Gelar Dokter Zaman Hindia Belanda, Sekolah Di STOVIA Setara Lulusan Eropa
Seperti diketahui, cukup banyak nama tempat atau kawasan di Jakarta yang diambil dari tanaman. Misal Menteng, Kelapa Gading, Kebon Jeruk, dan Kapuk Muara.
Duri kepa sendiri zaman dahulu merupakan sebuah hutan dan perkebunan yang banyak ditanami pohon kepa.
Pohon kepa atau pohon yang memiliki nama latin syzqium polycephalum ini, merupakan pohon buah sejenis jambu-jambuan.
Baca Juga: Besok Bakal Ada Tur Trofi Piala Dunia U-17 di Jakarta, Cek Lokasi dan Jamnya Disini!
Di Indonesia sendiri, pohon kepa atau buah kepa memiliki beberapa nama atau sebutan lain yang berbeda-beda.
Orang Betawi menyebutnya Gohok, orang Sunda menyebutnya kupa beunyeur, dan orang Jawa menyebutnya dompyang.
Pohon kepa ini biasa tumbuh secara liar di dataran rendah, dengan ketinggian 200 sampai 1.800 mdpl.
Buah kepa kerap dijual di pasar. Buah kepa ini bisa dimakan secara langsung dalam keadaan segar atau dijadikan bahan rujak.
Sementara kayu dari pohon kepa yang berwarna merah, biasa digunakan untuk bahan bangunan dan perabotan rumah tangga.
Di daerah Duri Kepa sendiri pada zaman dahulu banyak pohon kepa yang tumbuh subur, bahkan pohon itu hampir tumbuh di setiap halaman rumah warga.
Karena banyaknya pohon kepa tersebut, kawasan itu populer dengan sebutan Kepa.
Namun, entah mengapa kemudian disebut Duri Kepa. Meskipun pohon kepa tidak berduri, konon penamaan itu merupakan gabungan dari “duri” dan “kepa”,
Seiring berjalannya waktu, kini tak ada pohon kepa di kawasan itu. Kini pohon kepa itu sudah berganti menjadi pemukiman warga dan gedung perkantoran. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 4Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 5Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 6Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 7Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 8Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs FC Nurnberg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Die Werkself Taklukan Tim Kasta Kedua dengan Mudah?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




