Jakarta

Sejarah Jakarta: Asal Usul Duri Kepa dari Hutan Lebat

Mohammad Tegar Tsabitul Azmi | 14 Oktober 2023, 12:45 WIB
Sejarah Jakarta: Asal Usul Duri Kepa dari Hutan Lebat

AKURAT JAKARTA - Duri Kepa merupakan salah satu kawasan yang cukup populer dan strategis, yang masuk ke Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Kawasan ini merupakan kawasan padat penduduk. Banyak perkantoran dan pemukiman warga memenuhi Duri Kepa.

Jika melihat sejarah, asal usul Duri Kepa berkaitan dengan tumbuhan atau yang banyak tumbuh di kawasan itu pada masa lalu.

Baca Juga: Sejarah: Perjalanan Menuju Gelar Dokter Zaman Hindia Belanda, Sekolah Di STOVIA Setara Lulusan Eropa

Seperti diketahui, cukup banyak nama tempat atau kawasan di Jakarta yang diambil dari tanaman. Misal Menteng, Kelapa Gading, Kebon Jeruk, dan Kapuk Muara.

Duri kepa sendiri zaman dahulu merupakan sebuah hutan dan perkebunan yang banyak ditanami pohon kepa.

Pohon kepa atau pohon yang memiliki nama latin syzqium polycephalum ini, merupakan pohon buah sejenis jambu-jambuan.

Baca Juga: Besok Bakal Ada Tur Trofi Piala Dunia U-17 di Jakarta, Cek Lokasi dan Jamnya Disini!

Di Indonesia sendiri, pohon kepa atau buah kepa memiliki beberapa nama atau sebutan lain yang berbeda-beda.

Orang Betawi menyebutnya Gohok, orang Sunda menyebutnya kupa beunyeur, dan orang Jawa menyebutnya dompyang.

Pohon kepa ini biasa tumbuh secara liar di dataran rendah, dengan ketinggian 200 sampai 1.800 mdpl.

Buah kepa kerap dijual di pasar. Buah kepa ini bisa dimakan secara langsung dalam keadaan segar atau dijadikan bahan rujak.

Sementara kayu dari pohon kepa yang berwarna merah, biasa digunakan untuk bahan bangunan dan perabotan rumah tangga.

Di daerah Duri Kepa sendiri pada zaman dahulu banyak pohon kepa yang tumbuh subur, bahkan pohon itu hampir tumbuh di setiap halaman rumah warga.

Karena banyaknya pohon kepa tersebut, kawasan itu populer dengan sebutan Kepa.

Namun, entah mengapa kemudian disebut Duri Kepa. Meskipun pohon kepa tidak berduri, konon penamaan itu merupakan gabungan dari “duri” dan “kepa”,

Seiring berjalannya waktu, kini tak ada pohon kepa di kawasan itu. Kini pohon kepa itu sudah berganti menjadi pemukiman warga dan gedung perkantoran. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.