Jakarta

Siapa Orang Indonesia yang Pertama Bergelar Profesor Doktor? Ternyata Berasal dari Banten, Berikut Profilnya

Sastra Yudha | 6 November 2024, 17:46 WIB
Siapa Orang Indonesia yang Pertama Bergelar Profesor Doktor? Ternyata Berasal dari Banten, Berikut Profilnya

AKURAT JAKARTA - Gelar profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen. Gelar ini juga dikenal sebagai guru besar.

Gelar professor merujuk pada individu yang memiliki keahlian dalam bidang atau ilmu tertentu.

Saat ini hanya ada sekitar 8.000 orang Indonesia yang bergelar professor doktor.

Tapi, tahukah kalian siapa orang Indonesia pertama yang bergelar Doktor Profesor?

Baca Juga: Donald Trump Diprediksi Menang Telak Dari Kamala Harris, Kuasai 50 Persen Lebih Dari Total Suara

Berdasarkan catatan sejarah, orang Indonesia pertama yang bergelar professor doktor adalah Husein Djajadiningrat.

Husein Djajadiningrat merupakan bangsawan Banten bergelar Pangeran Aria Husein Djajadiningrat.

Ia lahir di Kramat Watu, Serang, Banten, pada 8 Desember 1886. Meninggal di Jakarta pada 12 November 1960.

Husein lulus kuliah S3 dan meraih gelar doktor dari Universitas Leiden Belanda, pada 3 Mei 1913.

Disertasinya berjudul: Critische Beschouwning van de Sedjarah Banten atau Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten.

Disertasinya ini dianggap sebagai perintis Historiografi Modern di Indonesia. Di kalangan sejarawan dia dikenal sebagai “Bapak Metodologi Penelitian Sejarah Indonesia”.

Husein juga merupakan penanggungjawab surat kabar bulanan berbahasa Sunda "Sekar Roekoen" yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Sekar Roekoen.

Baca Juga: Nilai Maesyal dan Andra Soni Sosok Pemimpin Yang Aktif, DPRD Fraksi Gerindra Targetkan Menang Maksimal di Pilkada 2024

Leluhur dari ayah Husein Djajadiningrat bernama Raden Wirasuta, seorang anak Puun Baduy Cibeo yang pernah diangkat oleh Sultan Ageng Tirtayasa menjadi punakawan dan prajurit.

Nama ayahnya adalah Raden Bagoes Djajawinata, seorang Wedana Kramat Watu dan Bupati Serang. Ayahnya kelahiran Pandeglang pada tahun 1854 dan wafat pada tahun 1899.

Sedangkan ibunya bernama Ratu Salehah, asli kelahiran Cipete, Serang. Kakak Husein, Pangeran Ahmad Djajadiningrat meneruskan jejak ayahnya sebagai Bupati Serang awal tahun 1900 an.

Kakak satunya lagi bernama Hasan Djajadiningrat, yang merupakan tokoh Sarekat Islam yang cukup berpengaruh di Jawa Barat pada masa awal pergerakan nasional.

Husein menikah dengan puteri tertua Mangkunegara VII, B.R. Ayu Partini. Istrinya merupakan penggemar sastra dan seni.

Dengan nama samaran Arti Purbani, B.R Ayu Partini pernah menulis beberapa novel, di antaranya: Widyawati, Hasta Cerita, Sepasar dan Satu Malam.

Tahun 1924, Husein diangkat menjadi guru besar di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta).

Sejak saat itu, Husein resmi menyandang gelar profesor. Ia memberikan kuliah tentang Hukum Islam, bahasa Jawa, Melayu, dan Sunda.

Pada tahun 1935 dan 1941, Husein diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Bertahun-tahun pernah menjadi konservator naskah (manuskrip) di Bataviaasch Genootschap can Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Masyarakat Pencinta Seni dan Ilmu Pengetahuan).

Baca Juga: Warga Bekasi Marapat! Bernadya, Nadin Amizah, Lomba Sihir, Juicy Luicy, hingga For Revenge Bakal Konser di Transera Waterpark, Catat Tanggalnya

Tahun 1940, Husein menjabat sebagai Direktur Pengajaran Agama. Pada zaman Jepang menjadi Kepala Departemen Urusan Agama.

Setelah Kemerdekaan RI, pada tahun 1948 Husein diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan.

Kemudian pada tahun 1952, Husein Djajadiningrat kembali diangkat menjadi guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI).

Demikian profil dan sejarah singkat orang Indonesia pertama yang bergelar professor doktor. Semoga bermanfaat. (*)

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.