Jakarta

IPK 3,82 dan Jadi Wisudawan Terbaik, Sholiha Buktikan Introvert Bisa Berprestasi

Anggerhana Denni Rahmawati | 9 Oktober 2026, 19:45 WIB
IPK 3,82 dan Jadi Wisudawan Terbaik, Sholiha Buktikan Introvert Bisa Berprestasi
Sholiha tak biarkan sifat introvert menghalanginya jadi wisudawan terbaik. - unesa.ac.id

AKURAT JAKARTA - Menjadi pribadi pendiam sering kali membuat seseorang dianggap kurang percaya diri atau tidak cocok tampil di depan umum.

Namun, Sholiha, lulusan S1 Ilmu Hukum Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak harus membatasi langkah seseorang.

Sholiha berhasil menjadi wisudawan terbaik Fakultas Hukum Unesa dengan IPK 3,82 dan predikat pujian pada Wisuda ke-122, 26 September 2026.

Pencapaian itu diraih melalui proses panjang, termasuk menghadapi kesulitan beradaptasi dan menyampaikan pendapat di hadapan orang lain.

Alih-alih menjadikan sifat introvertnya sebagai alasan untuk menghindari tantangan, perempuan asal Pasuruan ini memilih melatih diri melalui berbagai aktivitas kampus.

Belajar Berani Lewat Organisasi

Pada awal kuliah, Sholiha mengaku tidak terbiasa berbicara secara vokal ataupun tampil di depan umum.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika ia harus berinteraksi dengan banyak orang.

Namun, ia tidak ingin terus berada dalam keterbatasan tersebut.

Sholiha mulai terlibat dalam kegiatan organisasi mahasiswa hingga dipercaya menjadi Sekretaris Departemen Penalaran BEM Fakultas Hukum Unesa.

Baca Juga: Transit 6 Jam Tak Harus Membosankan, Thailand Ubah Penumpang Pesawat Jadi Calon Wisatawan

Ia juga ikut memprakarsai Badan Semi Otonom Komunitas Peradilan Semu (KPS), sebuah wadah bagi mahasiswa hukum untuk berlatih dan mengenal proses persidangan.

Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk belajar menyampaikan gagasan, bekerja sama, dan mengambil tanggung jawab.

Kemampuan komunikasi yang sebelumnya menjadi tantangan pun perlahan terasah melalui praktik langsung.

Kisah Sholiha memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu muncul sebelum seseorang mencoba.

Dalam banyak situasi, kepercayaan diri justru tumbuh setelah seseorang berulang kali menghadapi hal yang semula terasa sulit.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.