Jakarta

Anak Sekolah, Orang Tua Berwirausaha: Cara Sekolah Rakyat Memutus Rantai Kemiskinan

Anggerhana Denni Rahmawati | 29 Oktober 2026, 07:30 WIB
Anak Sekolah, Orang Tua Berwirausaha: Cara Sekolah Rakyat Memutus Rantai Kemiskinan
Ilustrasi Sekolah Rakyat - Dok. Pemkab Banyuwangi

AKURAT JAKARTA - Menyekolahkan anak menjadi langkah penting untuk memperbaiki masa depan keluarga.

Namun, bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, pendidikan anak juga perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan penghasilan rumah tangga.

Pendekatan inilah yang dikembangkan sejumlah Sekolah Rakyat melalui pendidikan akademik, pelatihan keterampilan, dan pendampingan usaha bagi orang tua siswa.

Empat Sekolah Rakyat meraih penghargaan sebagai Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dalam Mandaya Awards 2026 yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Keempatnya adalah Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, SRT 1 Kabupaten Takalar, SRT 1 Kabupaten Bogor, dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 14 Bandung Barat.

Penghargaan tersebut menjadi sorotan karena pendekatan yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik.

Sekolah juga berupaya membekali siswa dengan keterampilan praktis serta mendorong orang tua agar memiliki kemampuan ekonomi yang lebih mandiri.

Orang tua dilatih agar memiliki sumber penghasilan

Salah satu contoh terlihat di SRT 1 Kabupaten Takalar.

Sekolah ini bekerja sama dengan Sentra Pangurangi Takalar untuk memberikan pelatihan pembuatan kerupuk dan makanan ringan kepada orang tua siswa.

Baca Juga: Dari Majalah Bobo ke Bioskop, Oki & Nirmala Hadapi Tantangan Menjangkau Generasi Baru

Peserta tidak hanya memperoleh pelatihan, tetapi juga bahan baku dan peralatan untuk memulai produksi.

Hasilnya, sebagian orang tua mulai menjual produk mereka di toko-toko kecil dan membuka warung di rumah.

Kepala SRT 1 Kabupaten Takalar, M Jufrianto, menjelaskan bahwa bantuan tersebut membantu peserta mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari.

"Dibelikan bahannya, kemudian dibelikan alatnya oleh pihak sentra. Jadi alhamdulillah, mereka sekarang sudah biasa. Ada yang bahkan sudah jual di toko-toko kecil mereka di rumah, buka warung sendiri," ungkap Jufrianto.

Kasus ini memperlihatkan pentingnya menghubungkan pelatihan dengan sarana produksi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.