Jakarta

Kabut Asap Karhutla Hilang, Ancaman Kesehatan Anak Belum Berakhir

Anggerhana Denni Rahmawati | 4 November 2026, 07:30 WIB
Kabut Asap Karhutla Hilang, Ancaman Kesehatan Anak Belum Berakhir
Asap karhutla dikhawatirkan ganggu perkembangan anak.

AKURAT JAKARTA - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering dianggap tidak lagi membahayakan ketika api berhasil dipadamkan dan kualitas udara mulai membaik.

Namun, ancaman terhadap kesehatan anak ternyata tidak selalu berakhir bersamaan dengan hilangnya asap.

Paparan polusi yang terjadi berulang dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan hingga tumbuh kembang anak.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio.(K), mengingatkan bahwa partikel halus PM2,5 yang terkandung dalam asap kebakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan.

Bahkan, dampaknya berpotensi tetap dirasakan meskipun kebakaran sudah tidak terjadi dan kabut asap tidak lagi terlihat.

"Bisa jadi karhutlanya sudah tidak ada, tapi dampak jangka panjangnya bisa masih ada," kata Piprim dalam Webinar Media IDAI bertajuk "Dampak Karhutla dan Meningkatnya Pneumonia pada Anak", Selasa (3/11/2026).

Menurut Piprim, paparan asap yang terjadi berulang kali dalam periode panjang menjadi persoalan serius bagi anak-anak.

Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan, tetapi juga berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan mereka.

"Karhutla yang berulang dan jangka waktu panjang ini tentu saja akan bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita," ujarnya.

Dampak Karhutla Tidak Berhenti pada Penyakit Pernapasan

Baca Juga: Tiket Wisata Salju Trans Snow World Bintaro untuk 6 Orang Mulai Rp271 Ribu, Ini Ketentuannya

Selama terjadi karhutla, anak-anak termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk.

Paparan asap dapat memicu berbagai penyakit, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga pneumonia.

Namun, IDAI mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari jumlah anak yang jatuh sakit selama kebakaran berlangsung.

Paparan polusi yang berulang dalam jangka panjang juga perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi proses tumbuh kembang anak.

Artinya, dampak karhutla tidak seharusnya dianggap selesai hanya karena kondisi udara sudah kembali terlihat normal.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.