NOVEL BAG.95 : Istriku Harus Operasi Paru-paru

AKU tak mau mengulur waktu. Setelah Minggu malam istriku diobati Suhu, Senin siang aku bawa istriku ke rumah sakit. Untuk membuktikan, apakah Suhu benar bahwa istriku terkena santet.
Aku juga ingin tahu, apakah benar ada luka di paru-paru istriku. Karena itu, Suhu minta agar paru-paru istriku harus dirontgen lagi.
Semoga kali ini, hasilnya nyata. Tak sama dengan rontgen-rontgen sebelumnya. Empat kali rontgen, hasilnya nihil.
Kali ini, aku membawa istriku ke dokter spesialis paru-paru; dokter Dudi. Buka praktik di komplek DPR-RI. Tak jauh dari rumah mertuaku.
"Sudah berapa lama sakitnya, Bu?" tanya dokter muda nan ganteng itu.
"Sudah lama, Dok. Sekitar setahun lebih," jawabku.
Baca Juga: DPRD Nilai Target Laju Kendaraan Bermotor Tahun 2023 Berlebihan dan Perlu Dikaji
"Kok baru dibawa ke sini?" tanya Dokter Dudi sambil memeriksa istriku.
"Sudah di bawa ke beberapa rumah sakit, Dok. Sudah ditangani banyak dokter juga. Ada kali kalau sepuluh dokter mah," jawabku.
Aku mengeluarkan empat lembar gambar hasil rontgen sebelumnya. Rontgen dari rumah sakit yang berbeda.
"Ini Dok, hasil rontgennya." Aku serahkan semua hasil rontgen itu ke dokter Dudi.
Dokter memperhatikan secara detail hasil rontgen itu satu per satu.
"Coba rontgen lagi ya. Sekalian ke lab. Periksa darah dan dahaknya," kata dokter Dudi, sembari memberikan selembar kertas surat pengantar ke lab dan rontgen. Tak lupa, secarik kertas berisi oret-oretan resep obat.
"Besok balik lagi ya..! Sekalian bawa hasil rontgen dan lab." Lanjut doker Dudi.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Aku mengantar istri ke ruang laboratorium. Setelah ambil sample dahak dan darah, kami lanjutkan ke rumah photo rontgen. Menebus obat di apotek, lalu pulang.
Baca Juga: Spesialis Curanmor Jaringan Sumatera Beraksi di Setiabudi, Ini Modusnya
Esoknya, kami kembali ke rumah sakit tempat dokter Dudi praktik. Sebelum ke dokter Dudi, kami terlebih dulu mengambil hasil lab dan rontgen. Setelah itu, baru ke poli paru.
"Nur Laila Yasmin..!" Suster memanggil nama istriku.
Kami masuk ke ruang poli paru dr. Dudi. Saya serahkan hasil lab dan hasil rontgen. Dokter Dudi memeriksa hasil lab dan rontgen, secara bergantian.
"Hasil rontgen yang sebelumnya dibawa apa nggak," tanyanya.
"Dibawa, Dok." jawabku sambil mengeluarkan amplop besar berisi hasil rontgen. "Ini, Dok." Aku serahkan amplop besar itu.
Doker Dudi membandingkan hasil lab dan rontgen sebelumnya dengan yang baru. Berkali-kali, dokter Dudi menggelengkan kepala. Entah apa yang ada di pikirannya. Aku menanti kalimat apa yang akan keluar dari mulut dokter Dudi.
Dokter Dudi menghela napas panjang. Lalu meletakkan semua hasil lab dan rontgen di meja. Ia melepas kaca matanya. Duduknya beralih serong menghadap kepadaku. "Istri bapak harus dirawat," katanya tegas.
"Istri saya sakit apa, Dok..?" tanyaku.
"Ibu infeksi paru-paru atau pneumonia. Sudah akut. Ada luka atau semacam flek. Empat di sebelah kanan dan dua di sebelah kiri. Sebenarnya, ini sudah terlambat penanganannya," jelasnya.
Baca Juga: Program Unggulan Tangerang Mantap Sukses Antarkan Bupati Zaki Raih Satyalencana Wira Karya
Dijelaskan dokter Dudi, infeksinya menimbulkan peradangan pada kantung udara di kedua paru-paru. Kantung udara itu berisi cairan nanah. Infeksi itu dapat mengancam nyawa siapa pun.
Aku sampaikan kepada dokter Dudi, bahwa aku sudah berusaha mengobati sejak awal ke beberapa rumah sakit. Belasan dokter sudah memeriksa dan mengobati. Tapi, tak ada yang tahu persis apa penyakitnya.
Ada yang bilang, karena alergi. Ada yang menyebut, kena bronkitis, TBC, dan juga asma.
Sebentar dokter Dudi masuk ke ruang apotek. Entah apa yang dicari. Terdengar samar-samar pembicaraan antara dokter Dudi dengan apoteker.
Sementara aku dan istriku masih menunggu di kursi pasien.
"Aku nggak mau dirawat. Aku mau berobat jalan saja," bisik istriku.
"Tapi, kamu butuh perawatan, sayang... Kalau di rumah, tidak ada yang merawat kamu. Nanti sakitnya tambah parah. Kalau dirawat di sini, supaya kamu cempat sembuh."
"Nggak...! Aku nggak mau dirawat. Titik." bentak istriku.
Baca Juga: Ini Pesan Pemprov DKI untuk Abang None 2023
Aku tahu karakter istriku. Kalau dia sudah bilang "nggak mau" dengan nada tinggi, itu sudah keputusan final. Kalau dipaksa, ia akan berontak. Sangat frontal. Dan super nekad.
Maka, satu-satunya pilihanku adalah menurutinya. Apalagi, aku juga sedang tak punya uang. Gajiku sudah ludes untuk biaya berobat kesana-kemari.
Dokter Dudi kembali menemui kami. "Gemana Pak, Bu?" tanyanya.
"Dok, setelah saya diskusikan dengan istri, kami putuskan untuk rawat jalan saja," kataku pada dokter Dudi.
"Kami merekomendasikan untuk dirawat. Tapi kalau bapak dan istri nggak mau, ya kami juga tidak bisa memaksa. Hanya saja, bila terjadi sesuatu, kami sudah lepas tanggungjawab."
"Iya, Dok. Kami siap bertanggungjawab sendiri atas keputusan kami ini."
"Iya. Tapi kami tetap sarankan agar istri bapak dirawat di rumah sakit. Untuk memudahkan observasi dan penanganannya. Karena sepertinya, istri bapak harus dioperasi," katanya sambil kembali memeriksa hasil lab dan rontgen istriku.
"Operasi, Dok...?" aku tersentak kaget.
"Iya," jawabnya meyakinkanku.
"Coba bapak mendekat ke sini. Lihat ini..!" Sambil menunjuk ke titik-titik hitam di gambar paru-paru istriku.
Aku melihat secara lebih detail. Betul, ada enam titik hitam. Empat di kanan dan dua di kiri.
"Coba bapak perhatikan...! Ini, paru-paru yang kanan, ukurannya jauh lebih kecil kan ya?"
"Betul, Dok."
"Ini sudah kempes. Sudah nggak bisa memompa lagi. Kalau tidak segera dioperasi, ini akan menyebabkan kematian."
Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Pal Mariam Jakarta Timur
Aku terdiam. Tak bisa berkata-kata lagi. Dalam hati, aku sangat berharap istriku bisa sembuh. Tapi, untuk biaya operasi dan rawat inap, pasti tidak sedikit. Dari mana uangnya.
"Dok, boleh kami musyawarahkan dulu dengan keluarga."
"Silahkan. Tapi, istri bapak butuh penanganan segera. Silahkan dibicarakan dengan keluarga. Jikalau sudah ada keputusan, nanti kabari staf saya, biar dibantu pengurusan tindakan operasi," katanya. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








