NOVEL BAG.97 : Kematian Itu Pasti Datang

KABAR duka. Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun.....Turut berduka cita atas meninggalnya Ny. Hj. Nana Nasution, ibunda dari Fathia Novianti, pada hari Ahad 7 Agustus jam 6.00 pagi.
Kabar duka itu sampai kepadaku melalui grup BBM (Black Berry Massage). Dari teman juniorku penghuni mess mahasiswa.
Aku pun datang ke rumah duka. Bagaimanapun juga, aku punya masa lalu dengan putrinya. Meskipun berakhir dengan kecewa.
Pukul 11.30 WIB, aku sampai di rumah duka. Di komplek dosen UI. Di Rawamangun, Jakarta Timur.
Jenazah almarhumah sudah bersiap diberangkatkan ke pemakaman. Sudah diletakkan di kurung batang. Menunggu adzan dhuhur berkumandang.
Sebelum diberangkatkan ke pemakaman, terlebih dahulu akan disholatkan di masjid kampus.
Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Jati Padang dan Persitiwa Kebakaran Besar
Aku melihat Fathia. Di antara kerumunan sanak saudara dan handai taulan yang melayat.
"Fathia, kau masih tetap cantik. Air mata kesedihanmu tak mampu menghapus kecantikan wajahmu. Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Kerumunan pelayat telah menenggelamkan tubuhmu dari tatapan mataku."
"Ingin sekali aku menyingkirkan mereka, agar aku bisa mendekatimu. Meraih tanganmu. Menyeka air matamu yang terus mengalir di pipimu. Seperti yang sering aku lakukan padamu, waktu dulu."
"Fathia, kulitmu yang putih bersih, sangat kontras dengan pakaian serba hitam dan selendang hitam yang menggantung mengerudungi kepalamu. Matamu membengkak. Hidung dan pipimu memerah. Wajahmu tampak lusuh dan sembab."
"Kau terluka lagi? Bukankah dulu, peristiwa ini yang kau tunggu-tunggu? Berharap Tuhan segera memanggil ibu angkatmu. Katamu, agar kita bisa segera menikah."
Baca Juga: Apes, Ketahuan Bawa Ganja di Bungkus Rokok saat Operasi
Aku terus memandanginya dari kejauhan. Para pelayat yang memenuhi rumah duka, membuatku tak mampu menjangkau Fathia. Bahkan, untuk sekedar menyalaminya dan mengucapkan turut berduka cita. Kecuali kepada Bang Adam.
Sesak dada ini melihat kesedihan di wajah Fathia. Sekalipun hanya kutatap dari jarak jauh. Aku memaku mataku pada setiap gerakan Fathia. Agar aku tak kehilangan jejaknya.
Hingga adzan dhuhur berkumandang dengan suara lantang. Para pelayat menggotong keranda jenazah ke masjid kampus, yang hanya berjarak sekitar 200 meter. Aku mengikuti terus, setiap pergerakan. Hingga sampai di pemakaman.
Tapi aneh, sedari tadi aku sama sekali tak melihat suami Fathia. Bandot tua keturunan Arab itu kemana? Mengapa dia tak ada di sisi Fathia?
Selesai pemakaman. Para pelayat telah kembali pulang. Tinggal Fathia sendirian. Menangis di atas pusara. Memeluk batu nisan yang baru ditanam.
Baca Juga: Info Beasiswa September 2023, Buruan Jangan Telat
Aku menghampiri. Derai air matanya bercucuran. Aku tak tega melihatnya. Aku paling tak kuasa menyaksikan wanita menangis. Apalagi, wanita yang pernah bersemayam di hatiku. Hingga tak kusadari, air mataku ikut menetes.
Aku berjalan mendekat. Sangat dekat. Aku sentuh punggung Fathia. Ia berbalik badan. Menatapku. Entah sudah berapa lama tak kutatap wajahnya sedekat ini.
"Yang sabar ya...! Semoga Mama tenang di alam sana."
Fathia mengangguk. Kemudian menyeka air matanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Akan kusiapkan bahuku sekuat mungkin. Meski aku sadar, pohon yang kaku dan kokoh di masa lalu ini, sudah semakin rapuh. Bisa saja tumbang hanya karena hujan dan angin yang tak begitu kencang.
Jantungku berdetak kencang. Entah karena rasa apa. Agak tawar dicampur sendu dan sesuatu yang tak dapat didefinisikan. Mungkin karena getaran sisa-sisa masa lalu, yang kembali bergetar di dadaku. Meskipun rasa itu sudah kubunuh sejak lima tahun lalu. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







