Jakarta

NOVEL BAG.99 : Aku Mimpi Buruk

Sastra Yudha | 13 September 2023, 19:08 WIB
NOVEL BAG.99 : Aku Mimpi Buruk

SUDAH dua pekan istriku tak beranjak dari tempat tidur. Sejak tak mengikuti saran dokter Dudi untuk melakukan operasi. Kondisinya masih sama. Tak banyak berubah. Masih terkulai lemah dengan nafas yang tersengal-sengal.

Otot dan tulang kakinya tak mampu lagi menyangga tubuhnya yang tinggal kulit membungkus tulang. Namun matanya tak jua terpejam.

Ini sudah jam 12 malam. Aku membaringkan tubuhku di samping istriku. Mencoba ikut merasakan betapa sakit yang dia rasakan. Matanya terus terjaga. Siang dan malam. Menahan sakit yang mencabik-cabik isi dadanya.

"Istriku sayang.....tidurlah. Agar kamu bisa melihat matahari pagi. Agar kau bisa menghirup udara segar. Agar kita bisa bersenda-gurau bersama anak kita. Putri, anak kita, sekarang sedang lucu-lucunya. Tingkahnya selalu bikin gemas."

Istriku tak berekspresi. Tatapan matanya datar. Bola matanya berkaca-kaca. Entah karena rasa sakit yang dideritanya, atau rasa rindu bercanda ria bersama belahan jiwanya.

"Istriku, I love you." Aku kembali mengecup keningnya.

Baca Juga: Kabareskrim: Kita Miskinkan Bandar Narkoba, Ambil Semua Asetnya

"Istriku, bersabarlah. Yakinlah, sakitmu ini akan menghapus dosa-dosamu."

Aku coba terus menenangkan dirinya. Meninabobokkan agar ia bisa beristirahat. Hingga tak kusadari, aku sendiri yang terninabobok.

Aku tersentak, membuka kelopak mataku dengan tergelagap. Bisa kudengar suara degup jantung yang bergema nyaring di telingaku. Mataku menangkap kegelapan pekat yang membuat tenggorokanku tercekat.

Aku bermimpi? Mimpi yang buruk, benar-benar sangat buruk. Akan tetapi, ingatanku sama sekali tidak merekam potongan-potongan mimpi itu secuil pun. Kepalaku serasa hampa dan kelu.

Di mana aku? Perlahan-lahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan sunyi yang menyelubungi sekujur tubuhku. Sebuah tempat yang hampir tak membiarkanku mempunyai ruang gerak.

Aroma debu dan tanah basah menusuk-nusuk indera penciumanku. Membuatku teringat pada sebuah kata; Kematian.

Baca Juga: Berikut Bidang Pekerjaan yang Disukai Generasi Z

Matikah aku? Mendadak aku merasakan rasa takut dan sesak yang amat sangat, seperti penderita klaustrofobia yang panik kehabisan udara. Aku berusaha berontak.

Kudorong, kutinju, kutendang-tendang sembarangan, tetapi tidak ada yang terjadi. Sia-sia. Aku menyerah. Berkuintal-kuintal tanah pasti menahan tutupnya.

Kupejamkan mata. Kutenangkan diriku dalam kesunyian. Tidak peduli dengan selubung debu-debu yang memenuhi rongga paru-paruku.

Toh, sekarang aromanya tak beda dengan udara segar pegunungan yang dulu pernah kuhirup dalam-dalam. Ketika aku mencapai puncak bukit di masa kecil.

Tak berbeda pula dengan asap tar dan nikotin yang dulu bertahun-tahun pernah meracuni tubuhku.

Sebuah titik melintas. Berkelebat di dalam kelamnya semesta pikiranku. Berputar bagai gasing yang dimainkan oleh seorang anak, menghempas tanah, mengurai debu-debu.

Sebuah memori masa lalu. Tentang janjiku. Janji pada diri sendiri. Juga janjiku pada Sang Pemilik hidup dan mati; jika kelak aku diberi istri yang cantik, tinggi, putih, dan solehah, aku akan menjaganya. Merawatnya. Membahagiakannya. Mencintainya hingga Tuhan mengambilnya kembali.

Baca Juga: 5 Manfaat Minyak Zaitun untuk Kesehatan Kulit dan Rambut

"Ya Alloh, jangan Kau ambil nyawaku...aku belum dapat membahagiakan istriku."

Aku menangis. Memohon ampun pada Alloh. Minta maaf pada istriku.

Tiba-tiba ada yang mengusap pipiku. Usapan lembut itu membangunkan diriku dari mimpi buruk.

"Kenapa nangis? Kamu mimpi buruk ya..?" tanya istriku.

"Iya," jawabku sambil mengucek-ucek mata. "Maaf, aku mengganggu tidurmu ya..?"

"Nggak. Aku belum bisa tidur kok.." jawab istriku.

Aku melongok jam dinding. Sudah pukul satu dini hari.

"Bang...!"

"Iya," jawabku. Baru kali ini aku mendengar istriku memanggilku dengan panggilan "Bang".

"Kamu sudah bosen ya, punya istri sakit-sakitan?"

"Nggak. Aku nggak pernah dan nggak akan pernah bosen kepadamu. Apapun kondisi kamu, aku akan tetap mencintaimu."

"Tapi, aku sudah nggak bisa apa-apa. Bisanya cuma nyusahin kamu aja. Kamu kerja keras cari duit, tapi duitnya habis buat berobat aku. Kamu sendiri tak pernah menikmatinya."

Baca Juga: KPU Tetapkan 204 Juta DPT Pemilu 2024, Gen-Z Dominasi Kelompok Pemilih Muda

"Nggak apa-apa. Memang sudah kewajiban suami untuk menafkahi anak dan istri."

"Tapi, aku kan bukan istri yang baik untuk kamu. Aku tak pernah mau peduli kepadamu. Kamu sudah sangat baik kepadaku, tapi apa balasanku? Bahkan, aku tak mencintaimu. Sudah setahun aku nggak bisa melayani kamu. Buat apa punya istri, kalau tak ada gunanya untuk kamu....!?"

"Tidak, Sayang. Kamu tetap istriku yang paling aku cintai. Kamu telah memberikan segalanya untukku. Dengan menerima jadi istriku, kamu telah mengorbankan masa depanmu. Kamu sudah memberikan anak untukku. Putri....anak kita yang cantik. Secantik ibunya. Aku bersyukur telah memilikimu, istriku...."

Istriku terdiam. Matanya berkaca-kaca. Butirannya meleleh ke kiri dan ke kanan.

Aku mengecup keningnya. Embun keringat dingin terasa membasahi. Aku cium pipinya. Ia tak bereaksi.

"Yang sabar ya, sayang....! Ini ujian dari Alloh. Kamu pasti kuat. Kalau kita lulus dari ujian ini, insya'alloh ada hikmahnya yang jauh lebih baik. Sabar ya, sayang...!"

"Mungkin ini bukan ujian. Tapi hukuman. Karena aku yang tak tahu bersyukur."

"Bukan. Ini bukan hukuman. Kamu tidak salah. Tapi aku lah yang belum bisa membahagiakanmu."

Baca Juga: Polisi Pastikan Besok Periksa Artis Wulan Guritno terkait Judi Online

Suasana kembali hening. Sangat hening. Jarum jatuh pun akan terdengar dentingannya.

"Aku sholat malam dulu, ya..!"

Aku ambil wudhu. Lalu sholat tahajud. Tak pernah berhenti dan tak bosan-bosan, aku memohon pada Alloh untuk kesembuhan istriku.

Selesai sholat tahajud dan berdo'a, aku kembali ke kamar untuk menemani istriku. (Bersambung)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.