Jakarta

NOVEL BAG.101 : Berobat ke Guru dan Dokter Spesialis Paru-paru

Sastra Yudha | 15 September 2023, 15:50 WIB
NOVEL BAG.101 : Berobat ke Guru dan Dokter Spesialis Paru-paru

KERJA kerasku akhirnya membuahkan hasil. Kesehatan istriku kini sudah jauh membaik. Meski tanpa operasi.

Alloh telah mengobati kanker paru-paru yang diderita istriku, melalui perantara seorang Tabib. Aku memanggilnya dengan sebutan "Guru". Itu karena, selain mengobati dengan obat-obatan herbal, beliau juga seorang guru sufi.

"Tidak ada manusia yang punya kuasa menyembuhkan penyakit. Saya hanya perantara. Alloh yang punya kuasa. Kebetulan saya dikasih ilmunya. Saya kasih ke ibu. Tolong diamalkan. Kita ikhtiari. Disertai dengan do'a. Berdzikir asma Alloh. Insya'alloh, Alloh kabulkan. Alloh cabut penyakitnya dari diri ibu," kata Guru.

Tak hanya terapi langsung dengan Sang Guru. Terapi juga dianjurkan untuk dilakukan oleh suaminya, yaitu diriku. Setiap pagi dan malam. Aku diminta mengurut bagian punggung istriku, sambil membaca shalawat. Pagi, saat bangun tidur. Malam, saat mau tidur.

Selain terapi pijat, istriku juga dikasih obat herbal. Bukan buatan pabrik. Tapi, buatan tanganku sendiri.

Baca Juga: Pemprov DKI Bakal Jadikan Water Mist sebagai Standar Gedung di Ibukota

"Ketika Alloh menciptakan penyakit, Alloh juga menciptakan obatnya. Karena itu, tidak ada sakit yang tak ada obatnya. Hanya saja, mungkin manusia belum menemukan," nasehat Guru padaku.

Obat herbal yang diresepkan oleh Guru, yaitu; madu dicampur jahe, daun sirsak dan teh hijau. Diminumkan tiga kali dalam sehari. "Yang penting, ibu yakin."

Satu lagi pesan Guru: “Sumber penyakit itu adanya di hati dan pikiran. Kendalikan hatimu. Hilangkan sakit hati; iri, dengki, benci, dan sombong. Kendalikan pikiranmu. Jangan bikin stress. Orang hidup itu, pasti banyak pikiran. Kalau sudah tidak berpikir, berarti sudah nggak waras. Tapi, pikiran itu perlu dikendalikan. Supaya tidak merusak kesehatan kita.”

Setelah enam bulan terapi dan minum herbal, istriku bisa tidur lebih nyenyak. Nafsu makannya pun jauh membaik. Berat badannya kini perlahan naik.

"Selain herbal, ada baiknya ibu ke dokter spesialis paru-paru. Supaya recoverinya bisa lebih cepat," saran Guru.

Baca Juga: Tanggapi Banding Pihak Mario, JPU Juga Adukan Hal Yang Sama

Kami pun berobat medis. Setelah berobat ke beberapa dokter penyakit dalam, akhirnya kami menemukan dokter yang tepat. Rupanya, Alloh telah mengirim obat melalui seorang dokter spesialis paru. Namanya, dokter Ade Rosmawati.

"Untuk bisa sembuh total, seratus persen seperti semula, rasanya tidak mungkin. Paling maksimal 90 persen. Itu pun butuh waktu lama. Dua sampai tiga tahun. Yang penting, ibu harus sabar. Harus disiplin dalam minum obat. Insya'alloh, bisa lebih cepat," kata dokter Ade, setelah memeriksa hasil lab dan rontgen istriku.

Kini, selain terapi herbal ke Guru, aku juga membawa istriku berobat ke dokter Ade. Dua pekan sekali, istriku berobat ke dokter setengah baya yang masih cantik dan berhijab itu.

Ada setumpuk obat yang diberikan. Obat-obatan dalam bentuk kapsul dan tablet itu harus dihabiskan dalam seminggu. Sehari tiga kali. Pagi, siang dan malam. Sekali minum, ada enam jenis obat.

Baca Juga: Alasan Gen Z Mudah Pindah Kerja, Jam Kerja hingga Teman

Selain rutin minum obat, istriku juga harus menjaga kesehatan. Tak boleh bekerja berat; ngepel, mencuci pakaian, ataupun menggendong putriku. Istriku juga harus menjaga pola makan dan minum. Juga tak boleh terkena polusi udara; menghirup udara kotor, debu, maupun asap kendaraan. Aku pun dipaksa berhenti merokok.

Semua yang disyaratkan dokter Ade aku turuti. Karena aku sangat ingin istriku lekas sembuh, sehat seperti sedia kala. (Bersambung)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.