NOVEL BAG.105 : Misteri Dua Laki-laki Jahat

SESAAT obrolan kami berhenti. Seorang pramusaji menyajikan sebagian makanan yang kami pesan. "Silahkan Pak, Bu. Ini pesanan minumnya."
Di bawah lampu temaram. Di antara pepohonan rindang, semilir angin malam berhembus sepoi-sepoi, menambah suasana romantis kami berdua.
Aku melanjutkan mengulik hal-hal misterius di masa lalu. Salah satunya, terkait laki-laki yang sempat 'mengganggu' pertunangan kami.
"Lalu, siapa laki-laki yang bersamamu waktu sebulan sebelum pernikahan? Pacarmu?" tanyaku.
"Bukan. Aku baru kenal dia bulan itu. Dia itu teman abangku. Abang tidak setuju aku menikah dengan kamu. Karena itu, dia carikan pacar untuk aku."
Baca Juga: Perkembangan Musik Underground di Indonesia: Dari Komunitas Terbatas, Kini Diakui Masyarakat Luas
"Kamu sudah jadian sama dia?"
"Belum. Masih pendekatan."
"Dia tahu, kalau kamu sudah bertunangan denganku?"
"Tahu. Tapi, katanya, selagi janur kuning belum berkibar, masih bisa dibatalkan. Selagi belum ijab kabul, masih bisa direbut."
"Oh....., terus kenapa kamu akhirnya pilih melanjutkan pertunangan kita hingga sampai pelaminan?"
"Karena aku tak mau menyakiti orangtuaku. Terutama umiku (ibu). Kalau sampai umi nggak rela, rumah tanggaku bisa berantakan. Ucapan ibu itu keramat."
Mendengar cerita istriku, aku menghela nafas panjang. Ternyata, cukup dilematis juga ya.
"Hampir semua keluargaku, tak setuju aku menikah dengan Abang. Ada yang diam dan pasrah, ada juga yang menolak keras. Bahkan, ada yang sampai datang ke orang pintar, minta agar kita dipisahkan."
Baca Juga: Film The Expend4bles Mulai Tayang di Bioskop Indonesia, Ada Aktor Iko Uwais, Begini Alur Ceritanya
"Astaghfirulloh....sampai segitunya kah?" tanyaku.
"Iya. Karena dia menganggap, adiknya kena ilmu guna-guna."
"Hmmm.....aku tak sejahat itu. Aku nekat, karena aku benar-benar mencintaimu. Aku nggak pakai pelet ataupun guna-guna. Aku berpasrah dan meminta pada Alloh, melalui dzikir dan do'a."
Dua orang pramusaji kembali datang menghidangkan makanan. Kini, pesanan kami semua sudah tersaji. Tinggal menikmati.
Aku sengaja mengajak istriku makan malam di restoran dengan suasana romantis.
"Aku sekarang bahagia banget. Aku cinta banget sama Abang. Tak usah dipelet pun, aku akan lengket terus," kata istriku.
"Lalu, bagaimana dengan penawaranmu dulu. Apa sekarang masih berlaku?" tanyaku menggoda.
"Tawaran yang mana?"
"Itu..tuh...! Waktu kamu di antara hidup dan mati. Kamu bilang, silahkan abang nikah lagi. Asal jangan ceraikan diriku...Ha...ha..."
"Nggak...! Kesempatan hanya datang sekali. Enak aja...!" Sembari tangannya mencubit pahaku.
"Ya, kali aja masih berlaku. Ha...ha...ha..!"
"Nggak ada. Jangan macem-macem ya."
"Oke...oke...kita kembali ke cerita masa lalu."
Baca Juga: Jadi Sarang Prostitusi, Ratusan Bangunan Liar di Gang Royal Ditertibkan
Suasana kembali hening. Lantunan musik syahdu menemani makan malam kami berdua.
"Lalu, siapa kira-kira, orang yang tega menyantet kamu?" tanyaku.
"Aku nggak tahu pasti. Mungkin, mantan pacarku waktu SMA. Dia sakit hati karena aku putusin."
"Lah, katanya kamu nggak boleh pacaran?"
"Iya. Emang nggak boleh. Itu pacar waktu kelas 2 SMA. Setelah bubaran sama dia, aku nggak pernah pacaran lagi."
"Kenapa dia yang kamu curigai?"
"Karena waktu aku putusin, dia sakit hati banget. Sampai nangis dan mohon-mohon. Tapi, aku cuekin aja. Sampai dia ngancem; guwe akan bunuh siapapun laki-laki yang memilikimu."
"Waduh, berarti sampai sekarang dia masih jadi ancaman dong..!?"
"Insya'alloh, nggak. Dia sekarang udah nikah. Tinggalnya juga udah pindah ke Surabaya. Ikut istrinya."
"Kok kamu tahu..?!" Aku sedikit cemburu.
"Kata temen. Waktu dia nikah, aku juga diundang. Tapi aku nggak mau datang. Aku nggak mau cari masalah."
"Good...!" Aku kasih jempol. "Istriku memang istri sholehah." Aku kecup keningnya.
"Ya iyalah. Masa' istri Sholeh. Cewek, ya Sholehah lah...!"
Tak terasa, malam mulai larut. Kami pun menyudahi pacaran malam ini. Kami harus segera pulang. Anak-anakku pasti sudah menunggu. Atau, bahkan sudah terlelap tidur, karena lelah menunggu. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







