Pakar Unpad Sebut Geopolitik Global Mulai Bergeser ke Persaingan Kekuatan

AKURAT JAKARTA – Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai tatanan hukum internasional saat ini tengah mengalami pergeseran signifikan menuju persaingan kekuatan besar yang tidak stabil.
Dinamika ini dinilai memicu lahirnya tatanan global multipolar yang rapuh.
Menurut Rezasyah, situasi ini diperburuk oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Ia berpendapat bahwa Washington melihat kritik dari komunitas internasional relatif lemah, sehingga tidak merasa perlu menggunakan mekanisme hukum internasional dalam menyelesaikan konflik.
Baca Juga: Adly Fairuz Digugat Rp5 Miliar, Diduga Beri Harapan Palsu Soal Seleksi Akpol
"Trump melihat kritik dunia itu lemah, dan PBB sampai sekarang juga belum mampu melahirkan resolusi," ujar Rezasyah mengutip laman berita ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Beberapa peristiwa terkini yang menjadi indikator pergeseran ini antara lain:
Operasi di Venezuela, dimana Trump melakukan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS atas tuduhan terorisme narkoba pada 3 Januari.
Serta Presiden Trump yang berencana mengambil alih Greenland dari Denmark dengan alasan keamanan nasional.
Dilema Sekutu dan Posisi Indonesia
Tindakan sepihak AS tersebut dilaporkan mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan sekutu tradisional seperti Uni Eropa dan NATO.
Rezasyah menilai para sekutu kini mulai memandang AS sebagai mitra yang mengkhawatirkan, bahkan menggeser persepsi ancaman yang sebelumnya didominasi oleh Rusia.
Baca Juga: KUHP Baru Berlaku, Pacaran Tanpa Izin Orang Tua Bisa Terancam Pidana 7 Tahun
Dalam menanggapi ketidakpastian ini, Rezasyah mengingatkan agar Indonesia kembali pada prinsip diplomasi "mendayung antara dua karang" sebagaimana dicetuskan Mohammad Hatta.
Adapun Rezasyah menyebut bahwa Indonesia diimbau untuk bersikap ekstra hati-hati guna menjaga hubungan baik dengan seluruh pihak.
Dan membangun kerja sama internasional yang berlandaskan asas saling menguntungkan, serta terus menegaskan komitmen terhadap perdamaian dunia dan prinsip-prinsip PBB.
Ia menekankan bahwa segala langkah defensif Indonesia di panggung global harus tetap bersandar pada aturan internasional yang berlaku sebagai respons atas pelanggaran hukum dunia. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Anderlecht vs RB Salzburg di UEL, 6 November 2026: Adu Kuat Rekor Kandang dan Tandang
- 2Prediksi Skor NEC Nijmegen vs Omonia di UEL, 6 November 2026: Misi Menghentikan Tren Negatif di De Goffert
- 3Prediksi Skor Lillestrom vs Viktoria Plzen di UEL, 6 November 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Norwegia
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs Jagiellonia di UEL, 6 November 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Hoffenheim di UEL, 6 November 2026: Duel Tim Terpuruk di Selhurst Park
- 6Prediksi Skor Sparta Praha vs Bournemouth di UEL, 6 November 2026: Akankah Runtunan Kemenangan The Cherries Terus Berlanjut?
- 7Prediksi Skor Real Sociedad vs Lyon di UEL, 6 November 2026: Duel Sengit di Reale Arena
- 8Prediksi Skor AC Milan vs Ferencvaros di UEL, 6 November 2026: Momentum Derby Jadi Modal Rossoneri
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






