Jakarta

Saksi Ledakan Gas yang Hancurkan 10 Rumah di Duri Kepa: Warga Masih Terlelap hingga Panik Selamatkan Diri

Laode Akbar | 6 November 2026, 08:25 WIB
Saksi Ledakan Gas yang Hancurkan 10 Rumah di Duri Kepa: Warga Masih Terlelap hingga Panik Selamatkan Diri
Kondisi kerusakan pasca ledakan tabung gas di permukiman warga di Kampung Guji Baru, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. (Laode/Akurat Jakarta)

AKURAT JAKARTA – Ledakan tabung gas mengguncang permukiman warga di Kampung Guji Baru RT 06 RW 02, Kelurahan Duri Kepa, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (5/11/2026) dini hari.

Ledakan yang terjadi menjelang waktu salat Subuh itu membuat warga yang masih terlelap terkejut dan berhamburan menyelamatkan diri. Sebanyak 10 rumah dilaporkan terdampak, tiga di antaranya mengalami kerusakan parah.

Salah seorang warga, Yono (48), mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah menerima telepon dari anaknya. Saat itu, ia sedang menjalankan tugas piket malam sebagai petugas keamanan di salah satu universitas.

Baca Juga: Legislator Golkar Judistira Hermawan Minta DLH DKI Perketat Pengawasan Truk Sampah Milik Swasta

Anaknya mengabarkan bahwa rumah mereka mengalami kerusakan akibat ledakan tersebut.

"Terus ditelepon sama anak saya. Katanya, 'Pak, ada apa? Rumah kebobolan, Pak.' Ternyata setelah dijelaskan, rumahnya jebol karena gas," kata Yono.

Mendengar kabar itu, Yono langsung meninggalkan pekerjaannya sementara waktu untuk memastikan kondisi rumah dan keluarganya.

Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, ledakan diduga bermula dari kebocoran tabung gas di salah satu rumah warga.

Gas yang bocor disebut sempat ditampung menggunakan ember. Namun, sekitar pukul 05.00 WIB, gas tersebut kembali digunakan untuk memasak air.

Ledakan kemudian terjadi saat tabung gas disambungkan kembali.

"Informasi dari semalam, salah satu warga itu gasnya sudah bocor, terus ditampung di ember. Sampai jam 05.00 pagi digunakan lagi untuk masak air. Tiba-tiba begitu disambungkan lagi, langsung meledak," ujarnya.

Yono menuturkan, ledakan terjadi ketika jemaah masjid baru memasuki rakaat pertama salat Subuh. Suara ledakan yang keras membuat warga panik dan segera keluar dari rumah masing-masing.

Berdasarkan informasi sementara yang diterimanya, sekitar 13 orang mengalami luka-luka, mulai dari luka ringan hingga luka bakar.

Sementara itu, pemilik rumah yang diduga menjadi sumber ledakan, Cangkrim, dilaporkan mengalami luka bakar hingga 80 persen.

"Ya, luka 80 persen, sementara informasinya antara di Cipto sama di Rumah Sakit Kembangan," tuturnya.

Usai kejadian, pengurus RT bersama warga langsung menghubungi pihak terkait dan meminta bantuan ambulans untuk mengevakuasi para korban.

Petugas kepolisian dari Polsek Kebon Jeruk juga mendatangi lokasi untuk melakukan identifikasi dan pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP).

Yono menegaskan, berdasarkan informasi awal yang diterimanya, ledakan diduga berasal dari kebocoran gas, bukan akibat korsleting listrik.

Sementara itu, Lurah Duri Kepa, Arie Lystha, mengatakan ledakan yang diduga berasal dari tabung gas saat digunakan untuk memasak tersebut berdampak terhadap 10 rumah warga.

"Dari 10 rumah yang terdampak, tiga di antaranya mengalami kerusakan parah," ujar Arie.

Arie menyebutkan, sebanyak 29 warga dari 13 kepala keluarga (KK) terdampak peristiwa tersebut. Sejumlah korban yang mengalami luka-luka telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Pemerintah Kelurahan Duri Kepa juga mulai menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Bantuan berupa beras dan minyak goreng disalurkan melalui Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Selain bantuan logistik, kelurahan berinisiatif menyediakan makanan siap santap selama satu pekan. Langkah tersebut dilakukan karena rumah warga yang terdampak belum dapat digunakan untuk beraktivitas.

"Karena situasinya sekarang rumah tidak bisa dipakai sama sekali, kelurahan berinisiatif untuk mengirim makanan selama satu minggu," jelasnya.

Pihak kelurahan juga tengah mengajukan bantuan tambahan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

Tak hanya bantuan kebutuhan pokok, pendampingan psikologis bagi anak-anak korban terdampak turut diupayakan melalui Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

"Untuk anak-anak tentu ada pendampingan dari RPTRA. Kemudian saya juga minta pendampingan dari bidang penanganan anak-anak dari PMI," tuturnya.

Saat ini, para korban yang telah dibawa ke rumah sakit sudah mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, kebutuhan warga yang berada di pengungsian masih dikoordinasikan lebih lanjut oleh pihak kelurahan. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Laode Akbar
Y