Jakarta

Momen RA Kartini Menggugat Islam kepada Kiai Saleh Darat: Mengapa Ulama Kita Melarang Keras Penerjemahan Al-Quran dalam Bahasa Jawa?

Fikri Hidayatulloh | 20 April 2024, 23:28 WIB
Momen RA Kartini Menggugat Islam kepada Kiai Saleh Darat: Mengapa Ulama Kita Melarang Keras Penerjemahan Al-Quran dalam Bahasa Jawa?

AKURAT JAKARTA - Selama ini, Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai tokoh emansipatoris perempuan Indonesia.

Kumpulan surat-suratnya hasil korespondensi dengan feminis Belanda, Estella Zeehandelaar, berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang menunjukkan paradigma berpikir Kartini yang melampaui zaman.

Namun, sebagai sosok perempuan yang 'liberal', Kartini sebenarnya merupakan seorang yang tidak jauh-jauh dari tradisi Agama Islam.

Baca Juga: RA Kartini, Sosok Inspirasi di Balik Kitab Tafsir Faidurrahman Karya Kiai Saleh Darat

Semasa kecil, hari-hari Kartini bersama adik-adiknya dipenuhi dengan jadwal kegiatan yang cukup padat.

Selesai sekolah, Kartini harus belajar membaca Al-Qur’an, belajar Bahasa Jawa, berlatih menyulam, dan menjahit.

Tafsir Faidurrahman karya Muhammad Shalih ibn Umar al-Samarani atau lebih dikenal Kiai Saleh Darat menjadi bukti otentik betapa Kartini sebenarnya dekat dengan tradisi islam.

Baca Juga: Wisata Murah Dekat Jakarta ke Pulau Onrust, Sensasi Petualangan Kembali ke Masa Kolonial Belanda

Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo, M. Masrur, dalam Jurnal At-Taqaddum berjudul Kiai Saleh darat, Tafsir Faidurrahman, dan RA. Kartini mengungkap Kiai Saleh Darat khusus menulis kitab tafsir ini guna memenuhi permintaan Kartini.

Awal perkenalan Kiai Saleh Darat dengan Kartini bermula saat Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, seorang Bupati Demak.

Di rumah sang paman, Kartini ikut pengajian bulanan khusus keluarga yang diampu Kiai Saleh Darat.

Baca Juga: Bandara Soekarno-Hatta Menjadi Tersibuk se-Asia Tenggara selama Mudik Lebaran 2024

Saat itu, Kiai saleh Darat sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

Model pengajian dari Saleh Darat begitu menarik perhatian Kartini.

Sehingga, begitu ada kesempatan bertemu dengan Saleh Darat, Kartini langsung mengeluarkan segenap kegelisahannya tentang Al-Quran.

Baca Juga: 3 Lokasi Pergerakan Arus Mudik Ini Jadi Perhatian Pemerintah

"Kiai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?," kata Kartini.

Tertegun Kiai Saleh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kiai Saleh Darat balik bertanya, sambil berpikir bahwa pertanyaan Kartini sebenarnya juga pernah terlintas dalam pikirannya.

Baca Juga: 5 Tips Saat Nonton Konser Musik, Nomor Dua Banyak yang Sering Lupa

"Kiai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku," kata Kartini.

"Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam Bahasa Jawa," kata Kartini.

"Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?" kata Kartini.

Baca Juga: Resep Ayam Goreng Lengkuas, Sensasi Krenyes Enak, Bikinnya Mudah

Setelah pertemuannya dengan kartini, Kiai Saleh Darat tergugah untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Jawa.

Berhubung saat itu Belanda melarang aktivitas penerjemahan Al-Quran, Saleh Darat lalu mensiasatinya dengan menulis dalam huruf Arab gundul atau pegon dan menamakan kitab Tafsir Faidurrahman ala Kalam Malikiddayyan.

Kiai Saleh Darat lalu memberikan Tafsir Faidurrahman kepada Kartini sebagai kado pernikahannya dengan Bupati Rembang, R.M. Joyodiningrat.

Baca Juga: Susah Mencari Kerja karena Terbentur Sederet Syarat Memberatkan, Saatnya Manfaatkan Tiga Jejaring yang Kamu Punya

Kitab yang diberikan kepada Kartini merupakan jilid pertama Tafsir Faidurrahman yang terdiri dari 13 juz, mulai dari Surat Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim.

Kartini menerima kitab dari Saleh Darat dengan sangat senang. "Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun maknanya. Tapi, sejak hari ini, ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya. Sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami."

Tafsir Faidurrahman karya Kiai Saleh Darat tidak lengkap 30 juz, melainkan baru sampai tafsir Surat An-Nisa yang ditulis dalam dua jilid besar.

Baca Juga: 8.725 Pemudik Langgar Ganjil Genap Dapat Surat Tilang dari Polisi

Jilid pertama setebal 577 halaman, sementara jilid kedua setebal 705 halaman.

Cetakan pertama terbit pada 1894 di Singapura oleh penerbit al-Muhammadiyah.

Meski memiliki hubungan dekat dengan tradisi islam, bukan berarti Kartini tidak pernah mengalami pergolakan batin.

Baca Juga: Ayo Daftar Program Kartu Prakerja Gelombang 66, Syarat Pendaftaran Ada di Sini

Apalagi, semasa kecil, Kartini punya pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran).

Kartini pernah dimarahi guru ngajinya gara-gara menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang dia pelajari.

Kepada teman korespondensinya, Estella Zeehandelaar, Kartini menulis kritikan kepada islam dalam surat yang dikirim pada 6 November 1899.

Baca Juga: Ini Dia 10 Geopark Indonesia yang Diakui Dunia, Ada yang Cuma 4 Jam Berkendara dari Jakarta Lho!

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa?

Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku islam.

Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya?

Baca Juga: Shandy Aulia Terjebak Banjir Besar Dubai, Saksikan Mal Besar Jadi Wahana Air Raksasa

Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab.

Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya.

Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu.

Baca Juga: Resep Tahu Kecap Pedas, Cara Bikinnya Mudah Rasanya Enak di Lidah

Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku Bahasa Inggris, aku harus hapal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya.

Tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu, Stella?."

Sementara kepada temannya yang lain, E.E Abendanon, Kartini menulis surat yang mencurigai jangan-jangan para ulama di Tanah Jawa juga tidak mengerti arti Al-Quran.

Baca Juga: Destinasi Wisata di Jabar, Jateng dan Jatim yang Paling Banyak Dikunjungi Pemudik Selama Libur Lebaran 2024, Cocok untuk Refreshing Akhir Pekan Ini

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya.

Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghapal perumpamaan-perumpaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya.

Katakanlah kepadaku apa artinay, nanti aku akan mempelajari apa saja.

Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti artinya."*


 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.