Dari Susu hingga Lemak, 6 Mitos Nutrisi yang Membuat Salah Kaprah

AKURAT JAKARTA - Mitos nutrisi sering membuat kamu ragu memilih makanan yang benar.
Mitos nutrisi juga kerap beredar dari media sosial tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Karena terjebak mitos nutrisi, kamu mungkin merasa sudah makan sehat, padahal sebenarnya justru merugikan tubuh.
Baca Juga: Waspada Isu Kesehatan Saat Musim Hujan Datang
Saat pola makan semakin dipengaruhi tren instan, penting bagi kamu untuk memilah mana informasi yang fakta dan mana yang hanya sekadar kepercayaan lama.
Kesadaran ini bukan hanya soal diet, tetapi juga tentang kesehatan jangka panjang.
Banyak kesalahpahaman nutrisi tumbuh dari kebiasaan yang diulang bertahun-tahun.
Baca Juga: Gunung Api Purba Nglanggeran, Wisata Hidden Gem yang Menakjubkan di Yogyakarta
Ada yang datang dari promosi industri makanan, ada pula dari tips populer yang belum diuji secara memadai.
Akibatnya, kamu mudah menyederhanakan persoalan gizi: yang manis dianggap musuh, yang “rendah lemak” dianggap selalu aman, dan olahraga dipercaya bisa menebus semua.
Padahal, tubuh bekerja jauh lebih kompleks daripada sekadar hitung-hitungan kalori.
Baca Juga: Liburan Usai, Mood Turun, Kenali Apa itu Post Holiday Blues
1. Ngemil Selalu Dianggap Berbahaya
Bukan ngemilnya yang salah, tetapi pilihan makanannya.
Saat kamu memilih camilan ultra-olahan seperti keripik atau kue, gula dan aditif membuatmu sulit berhenti.
Baca Juga: 6 Strategi Membaca Lebih Banyak di 2026 Tanpa Terasa Dipaksa
Sebaliknya, kacang, yogurt, atau buah membantu menjaga gula darah tetap stabil dan memberi protein serta serat agar kamu kenyang lebih lama.
2. Obsesi Konsumsi Protein Berlebih
Tren bubuk protein dan porsi daging besar sering disalahpahami.
Baca Juga: Air Hangat Rendaman Nanas, Minuman Sederhana dengan Manfaat Kesehatan Alami
Kecuali kamu atlet atau berusia di atas 60 tahun, kebutuhan rata-rata hanya sekitar 0,8 g/kg berat badan.
Seperti diingatkan pakar, "Penggunaan bubuk protein berlebih bukanlah solusi optimal," sehingga lebih baik kamu mengutamakan protein alami dari ikan, kacang, dan yogurt.
3. Suplemen Serat Sama dengan Serat Alami
Baca Juga: Wisata Gratis 0 Rupiah di Jakarta, Tetap Seru Tanpa Keluar Biaya
Diet tinggi serat memang baik, tetapi suplemen biasanya hanya memuat satu jenis serat.
Tanpa kombinasi nutrisi dari sayur dan buah utuh, manfaatnya tidak akan menyamai sumber alami.
4. Mitos Susu Rendah Lemak Lebih Baik
Baca Juga: Musim Hujan Mulai Tiba, Ini Daftar Minuman Tradisional yang Menghangatkan Tubuh
Belum ada bukti kuat bahwa susu murni memicu obesitas.
Bahkan, beberapa penelitian menemukan peminumnya cenderung memiliki angka obesitas lebih rendah.
Produk rendah lemak sering diberi tambahan gula — di sinilah jebakannya.
Baca Juga: Gunung Api Purba Nglanggeran, Wisata Hidden Gem yang Menakjubkan di Yogyakarta
5. Semua Lemak Itu Buruk
Selama bertahun-tahun lemak disalahkan, sehingga orang beralih ke karbohidrat olahan.
Padahal lemak sehat—seperti dari minyak zaitun, kacang, dan cokelat hitam—penting untuk fungsi tubuh.
Baca Juga: Empat Tipe Orangtua yang Menguras Emosi Anak, Apakah Kamu Termasuk Korbannya?
Bahkan, setengah sendok makan minyak zaitun sehari dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah.
6. Olahraga Bisa Menebus Makan Berlebih
Kamu tidak bisa menukar pola makan buruk dengan sesi olahraga panjang.
Baca Juga: Grand Waterfront Sedayu City, Keindahan Wisata Tepi Air Baru di Jakarta
Tubuh memiliki mekanisme kompensasi yang membuat pembakaran kalori relatif stabil.
Olahraga tetap penting untuk suasana hati dan persendian, tetapi apa yang kamu makan memegang peran utama.
Pada akhirnya, meninggalkan mitos nutrisi berarti belajar memahami tubuh sendiri.
Baca Juga: UPfinity, Wahana Kaca Modern di Tengah Kota Jakarta
Dengan memilih makanan utuh, seimbang, dan tidak berlebihan, kamu memberi peluang lebih besar bagi kesehatanmu di masa depan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









