Jakarta

OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Bukan Diagnosis hanya Pendukung Kualitas Hidup

Ainun Kusumaningrum | 9 Januari 2026, 06:22 WIB
OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Bukan Diagnosis hanya Pendukung Kualitas Hidup

AKURAT JAKARTA - Perusahaan kecerdasan buatan, OpenAI, secara resmi memperkenalkan fitur terbaru bernama ChatGPT Health.

Ruang khusus ini dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan pengguna dalam berdiskusi mengenai topik kesehatan dan kebugaran secara lebih terarah dan terpisah dari percakapan umum.

Langkah ini diambil setelah OpenAI mencatat tingginya antusiasme publik terhadap isu medis.

Baca Juga: Legislator Golkar Andri Santosa: Kenaikan UMP 2026 Harus Dibarengi Peningkatan Skill Pekerja Lewat Pelatihan Kerja

Setiap pekan, tercatat lebih dari 230 juta pengguna mengajukan pertanyaan terkait kesehatan melalui platform ChatGPT.

Dengan adanya fitur ini, OpenAI berupaya menjaga agar konteks medis pengguna tetap terjaga dan tidak tercampur dengan obrolan harian lainnya.

Sistem akan secara otomatis menyarankan pengguna untuk beralih ke ruang ChatGPT Health apabila terdeteksi adanya pembahasan mengenai isu kesehatan.

Baca Juga: Gubernur Pramono Pastikan Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Dimulai Rabu Depan, Ini Alasannya

Meski berada di ruang terpisah, fitur ini memiliki kemampuan untuk tetap memahami konteks relevan dari riwayat percakapan sebelumnya guna memberikan jawaban yang lebih akurat.

Sebagai rencana jangka panjang, ChatGPT Health akan diintegrasikan dengan data pribadi dari berbagai aplikasi kebugaran populer, seperti Apple Health, Function, dan MyFitnessPal.

Untuk menjaga kerahasiaan data, OpenAI memberikan jaminan bahwa seluruh percakapan dalam ruang kesehatan ini tidak akan digunakan sebagai bahan pelatihan model kecerdasan buatan mereka.

CEO Aplikasi OpenAI, Fidji Simo, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan jawaban atas beragam tantangan dalam sistem layanan kesehatan global saat ini.

"Kami memandang ChatGPT Health sebagai solusi atas berbagai hambatan medis, mulai dari tingginya biaya layanan, keterbatasan akses, hingga beban kerja tenaga medis yang berlebih," jelas Simo melalui keterangan resminya, Kamis (8/1/2026).

Meskipun fitur ini menawarkan kemudahan akses informasi, pengguna diharapkan tetap bijak dan memahami bahwa layanan ini bukan merupakan alat diagnosis medis formal, melainkan sarana pendukung dalam upaya peningkatan kualitas hidup dan kebugaran secara mandiri. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.