Jakarta

GERD dan Penyakit Jantung, Mirip Gejala Namun Berbeda Penyebab

Zainal Abidin | 27 Januari 2026, 13:45 WIB
GERD dan Penyakit Jantung, Mirip Gejala Namun Berbeda Penyebab

AKURAT JAKARTA - GERD atau gastroesophageal reflux disease sering menimbulkan kekhawatiran karena gejalanya menyerupai penyakit jantung yang serius.

Banyak orang panik saat merasakan nyeri dada, padahal penyebabnya belum tentu berasal dari gangguan pada jantung.

Pemahaman yang keliru membuat sebagian penderita GERD merasa takut berlebihan dan mengalami kecemasan berkepanjangan.

Baca Juga: Viral dan Jadi Buruan Wisatawan, Ternyata Planet Bromo Menyimpan Risiko Tersembunyi

GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan karena katup lambung melemah atau tidak menutup sempurna.

Naiknya asam lambung ini menimbulkan rasa panas di dada, nyeri ulu hati, mual, serta rasa asam di mulut yang mengganggu.

Pada beberapa kasus, nyeri akibat GERD terasa menekan dan menjalar sehingga sering disangka sebagai gejala penyakit jantung.

Baca Juga: Rutin Konsumsi Telur Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Alzheimer pada Lansia

Secara medis, GERD tidak secara langsung menyebabkan penyakit jantung atau merusak otot dan pembuluh darah jantung.

Masalah GERD terjadi pada sistem pencernaan, sedangkan penyakit jantung berkaitan dengan aliran darah dan otot jantung.

Namun, kesamaan gejala membuat pemeriksaan medis menjadi sangat penting agar diagnosis tidak keliru.

Baca Juga: Jagat Satwa Nusantara TMII, Pilihan Wisata Keluarga Seru, Nyaman, dan Edukatif

Hubungan GERD dan penyakit jantung bersifat tidak langsung dan lebih dipengaruhi oleh faktor risiko yang sama.

Obesitas, kebiasaan merokok, stres, kurang aktivitas fisik, serta pola makan buruk dapat memicu GERD dan penyakit jantung.

Jika faktor risiko tersebut tidak dikendalikan, kedua penyakit dapat muncul bersamaan dan saling memperburuk kondisi tubuh.

Baca Juga: Dari Mana Garam Himalaya Berasal? Ini Fakta Sebenarnya

Stres akibat nyeri dada yang berulang juga dapat meningkatkan tekanan darah dan memengaruhi kesehatan jantung secara tidak langsung.

Selain itu, peradangan kronis pada GERD diduga memengaruhi sistem saraf yang turut berperan dalam pengaturan denyut jantung.

Meski demikian, kondisi ini tidak berarti GERD berubah menjadi penyakit jantung.

Baca Juga: GERD: Penyakit Asam Lambung yang Sering Diabaikan, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Masyarakat perlu waspada terhadap nyeri dada yang muncul mendadak, sangat kuat, dan disertai sesak napas atau keringat dingin.

Gejala tersebut harus segera diperiksakan karena bisa menandakan gangguan jantung yang membutuhkan penanganan cepat.

Sebaliknya, nyeri GERD umumnya membaik setelah minum obat lambung atau setelah posisi tubuh diubah.

Baca Juga: Empat Keraton dalam Satu Kota, Inilah Keunikan Cirebon

Pencegahan GERD dapat dilakukan dengan makan teratur, menghindari makanan berlemak, pedas, dan asam berlebihan.

Tidur tidak langsung setelah makan dan menjaga berat badan ideal juga membantu mencegah kekambuhan GERD.

Langkah pencegahan ini sekaligus bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Baca Juga: Vault Automotive Museum, Surga Wisata Otomotif Vintage di Jakarta Selatan

Edukasi yang benar membantu masyarakat memahami bahwa tidak semua nyeri dada berasal dari penyakit jantung.

Dengan mengenali perbedaannya, kepanikan dapat dikurangi dan pemeriksaan medis dilakukan secara tepat dan bijak. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.