Cara Pemerintah Redam Kenaikan Harga Pangan, Siapkan Langkah Mitigasi Inflasi

AKURAT JAKARTA – Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi strategis guna menjaga laju inflasi domestik.
Fokus utama penanganan yaitu pengendalian komponen harga pangan bergejolak (volatile food).
Serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang di pasaran.
Baca Juga: Terinspirasi Kasus di Jakarta, Pelajar 17 Tahun Jadi Tersangka Bom Rakitan di MAN 3 Padang
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah terus mencermati pergerakan komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi.
"Tentu kita melihat beberapa komoditas yang bisa mempengaruhi kenaikan inflasi. Periode lalu kita lihat emas sempat naik, tetapi sekarang sudah turun. Yang masih meningkat saat ini adalah volatile food," kata Airlangga di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Airlangga menegaskan, komoditas pangan seperti bawang putih menjadi prioritas untuk ditangani secara tepat agar tidak memberikan tekanan lebih lanjut terhadap daya beli masyarakat.
Selain faktor bahan pangan, pemerintah juga menyoroti kenaikan harga kemasan (packaging) berbasis plastik yang berdampak langsung pada lonjakan harga produk makanan jadi.
Untuk mengatasi hal ini, Kemenko Perekonomian telah meminta Kementerian Keuangan untuk segera menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait.
"Kami meminta agar PMK-nya segera dikeluarkan karena seluruh produk makanan menggunakan kemasan plastik, sehingga kontribusinya sangat berpengaruh. Sementara untuk sektor petrokimia dan LPG, PMK-nya sudah keluar," jelas Airlangga.
Pemerintah berharap restrukturisasi regulasi ini dapat meredam tekanan harga di tingkat produsen hingga konsumen, sehingga grafik inflasi ke depan dapat lebih melandai.
Sebagai bagian dari upaya jangka panjang menjaga stabilitas transportasi, pemerintah sebelumnya juga telah menerbitkan kebijakan pembebasan bea masuk untuk gas LPG dan suku cadang (spare parts).
Langkah ini diambil mengingat sektor transportasi, khususnya penerbangan udara, menjadi salah satu jangkar penting dalam pergerakan angka inflasi nasional.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Anderlecht vs RB Salzburg di UEL, 6 November 2026: Adu Kuat Rekor Kandang dan Tandang
- 2Prediksi Skor NEC Nijmegen vs Omonia di UEL, 6 November 2026: Misi Menghentikan Tren Negatif di De Goffert
- 3Prediksi Skor Lillestrom vs Viktoria Plzen di UEL, 6 November 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Norwegia
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs Jagiellonia di UEL, 6 November 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Hoffenheim di UEL, 6 November 2026: Duel Tim Terpuruk di Selhurst Park
- 6Prediksi Skor Sparta Praha vs Bournemouth di UEL, 6 November 2026: Akankah Runtunan Kemenangan The Cherries Terus Berlanjut?
- 7Prediksi Skor Real Sociedad vs Lyon di UEL, 6 November 2026: Duel Sengit di Reale Arena
- 8Prediksi Skor AC Milan vs Ferencvaros di UEL, 6 November 2026: Momentum Derby Jadi Modal Rossoneri
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






