Koalisi Pejalan Kaki: Pemangkasan Trotoar di Jalan TB Simatupang adalah Kemunduran Bagi Pembangunan Transportasi di Jakarta

AKURAT JAKARTA - Koalisi Pejalan Kaki mengkritik wacana kebijakan Gubernur Jakarta, Pramono Anung, terkait pemangkasan trotoar untuk mengatasi kemacetan di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.
Koordinator Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, mengatakan pemangkasan trotoar tersebut berdampak buruk terhadap proses pembangunan urban sustainable transport (transportasi berkelanjutan perkotaan).
"Rencana penggusuran trotoar tsb adalah merugikan (set back/kemunduran) atas proses pembangunan urban sustainable transport yang sudah dirintis dan dibangun oleh beberapa Gubernur DKI Jakarta sejak 2000," ujar Alfred dalam keterangannya, dikutip Minggu (24/8/2025).
Seharusnya, kata Alfred, kemacetan diarahkan sebagai disinsentif atas pilihannya bagi masyarakat para pengguna kendaraan pribadi, mobil maupun sepeda motor.
"Jadi biarkan saja sebagai push and pull policy sehingga masyarakat terdorong berpartisipasi mengurangi kemacetan lalu lintas dengan memanfaatkan angkutan umum masal, sepeda atau berjalan kaki," tuturnya.
Ia memaparkan, disinsentif bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi perlu ditambah dengan penerapan jalan berbayar (ERP/electronic road procing) dan tarif parkir progresif untuk kawasan padat kendaraan, termasuk TB Simatupang; yang sudah dikaji pada 2009/2010.
"Toh sudah disediakan angkutan umum masal yang lumayan baik di DKI Jakarta dan sekitarnya, jadi salah sendiri apabila masyarakat tetap bertahan pada kemacetan dengan menggunakan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor," tukasnya.
Ia pun mengatakan, alih-alih meningkatkan fasilitas pejalan kaki dan lajur sepeda serta angkutan umum masal, justru Pramono mengambil langkah anarkis dan set back terhadap pembangunan urban sustainable mobility strategy yang sudah dibangun susah payah dan dengan biaya mahal dari pajak masyarakat selama ini.
"Bak virus ganas, sepertinya tabiat Plt Gubernur give away Heru Budi Hartono telah menular pada Gubernur Pramono Anung yang getol menghabisi lajur sepeda dan fasilitas pejalan kaki. Padahal pada 2017, masih terhutang 1600 km trotoar yang harus dibangun," tandasnya.
Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin. Ia menilai bahwa rencana pemangkasan trotoar tersebut adalah sesat dan merugikan perekonomian.
"Gubernur DKI Jakarta yang ancang-ancang melebarkan jalan raya (Jl TB Simatupang) dengan mengorbankan fasilitas NMT (lajur sepeda dan trotoar, adalah sesat dan merugikan pertumbuhan ekonomi regional," tutur Safrudin. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Alaves vs Malaga di La Liga, 24 Oktober 2026: Misi Bangkit Tuan Rumah di Tengah Ancaman Zona Bawah
- 7Prediksi Skor Torino vs AC Monza di Serie A, 24 Oktober 2026: Mampukah Il Toro Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





