Jakarta

NOVEL BAG. 74: Ketemu Zaenab Lagi

Sastra Yudha | 15 Agustus 2023, 23:16 WIB
NOVEL BAG. 74: Ketemu Zaenab Lagi

INI yang ke sekian kali, aku melihat gadis Arab itu turun dari Angkot (angkutan kota). Di perempatan Slipi, Jakarta Barat. Sore hari. Saat jam pulang kantor.

Saat aku akan kembali ke kantor. Dari Gedung DPR Senayan. Setelah seharian lelah liputan. Menghimpun berita yang berserakan dari mulut para anggota dewan.

Wajah gadis keturunan Arab itu, sepertinya tak asing bagiku. Terekam di memori kepalaku. Aku pernah melihatnya. Dulu. Sekitar enam tahun lalu.

Di mana ya? Aku mencoba mengingat-ingat. Merewind ke masa lalu.

Oke. Aku ingat sekarang. Aku pernah melihatnya di rumah Haji Taufik. Saat aku mengisi pengajian atau ceramah agama. Waktu itu. Saat aku datang bersama Fathia. Saat itu, aku sudah terpesona dengan kecantikannya.

Baca Juga: Catat! Ini Rangkaian Acara HUT RI ke-78 yang Digelar Pemprov DKI

Fathia cemburu, karena aku menatapnya lama. Padahal, dia masih anak kecil. Kami menjulukinya Zainab. Karena wajahnya mirip Maudy Koesnaedi, pemeran Zainab dalam sinetron dan film Si Doel.

Zainab kini sudah bukan anak kecil lagi. Sudah gadis remaja. Sudah bekerja. Sudah bisa beli kosmetik dan merias diri. Tambah cantik. Bertubuh tinggi dan langsing.

Wajahnya oval. Hidung mancung. Alis tebal. Mata besar dan cekung. Bulu mata lentik. Kumis tipis menghiasi atas bibirnya yang seksi. Leher panjang berjenjang. Tinggi 166 cm dan berat 49 kg. Cukup ideal.

Aku mengikuti langkahnya. Dia naik angkot, aku pun ikut naik angkot yang sama. Aku perhatikan gadis Arab itu. Ingin sekali aku berkenalan, tapi takut ditolak. Lebih baik aku SKSD (sok kenal, sok dekat). Aku tunggu saat yang tepat.

Baca Juga: Soal Usulan 4 in 1 untuk Atasi Polusi Udara, Begini Kata Heru Budi

"Nab, aku duluan ya.!" kata wanita yang duduk di sebelahku dan berhadapan dengannya, saat turun angkot.

"Iya. Sampai ketemu besok."

Wanita yang baru turun angkot menjawab dengan acungan jempol.

Kini, aku tahu namanya. Ternyata, rekan-rekannya juga memanggilnya Zainab. Entah nama asli, atau nama panggilan saja.

Kini tinggal bertiga di dalam angkot. Aku, Zainab, dan seorang ibu setengah baya. Aku pun mencoba menyapanya. Biasa, pakai jurus SKSD (sok kenal dan sok dekat).

"Baru pulang kerja ya, Dik?"

"Iya, Pak." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulutnya. Itupun dijawab sambil nunduk.

"Zainab rumahnya deket rumah Haji Taufik ya...?"

"Betul, Pak. Kok bapak tahu..?" Baru deh ia tersentak, setelah aku sebut tempat tinggalnya.

"Tahu lah...! Masa' Zainab nggak kenal saya?"

"Maaf, bapak rumahnya yang sebelah mana?" tanyanya penasaran. "Bapak ini orangtuanya siapa?"

Baca Juga: Pengamat Nilai WFH Tak Efektif Atasi Polusi, Heru Budi: Untuk Kurangi Kemacetan

Dalam hati aku membathin, memangnya tampangku sudah kelihatan tua apa ya? Kok Zainab dari tadi memanggilku bapak.

"Jangan panggil saya bapak dong. Saya kan masih muda. He..he.he.."

Zainab tak merespon. Aku juga tak menjelaskan, karena aku memang tidak tinggal di sekitar rumahnya.

Angkot terus melaju, hingga tak terasa sudah melewati kantorku. Tapi aku tak turun. Aku terus mengikuti Zainab, sampai gadis Arab itu turun dari angkot.

Di ujung jalan Alfa. Aku turun di ujung jalan Beta. Antara jalan Alfa dengan jalan Beta, hanya berjarak seratus meter.

Dari jarak pandang seratus meter, kedua mataku mengikuti langkah Zainab hingga sampai pintu rumahnya.

Setelah Zainab masuk rumah, aku kembali ke jalan raya. Naik angkot, kembali ke kantor.

Sejak hari itu, aku lakukan ritual yang sama. Setiap jam pulang kantor, aku juga pulang liputan. Menunggu di perempatan Slipi. Begitu lihat Zainab naik angkot, aku ikuti naik angkot yang sama.

Aku terus mengikuti hingga Zainab sampai rumah. Terkadang, aku menawarkan diri membayari ongkosnya. Meskipun sering ditolak.

Aku berkali-kali kasih tahu agar tak memanggilku "Pak". Tapi tetap saja ia memanggilku "Pak". Terkadang, memanggilku "Om".

Aku bercandain; "Memangnya kapan aku menikahi tantemu?". Dia hanya tersenyum. Senyuman yang meluluhkan hatiku. Senyuman yang menyedot energiku, sehingga aku jadi gemetaran. (Bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.