NOVEL BAG.87 : Kehamilan yang Menguji Kesabaran

HAMIL. Membuat istriku jadi lebih sensitif. Lebih cepat marah dan mudah emosi. Aku jadi serba salah. Begini, salah. Begitu, salah. Rasanya, semua yang aku lakukan, selalu salah.
Aku tanyakan ke dokter kandungan, katanya hal tersebut lumrah terjadi pada ibu hamil. Apalagi, ini merupakan kehamilan pertama.
"Itu karena adanya perubahan hormon. Fluktuasi mood ibu hamil mirip dengan saat menjelang haid atau premenstrual syndrome (PMS). Biasanya, hal ini terjadi di trimester pertama. Karena ibu hamil sedang menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Jadi, wajar saja orang hamil jadi lebih galak, meski mungkin tak semua wanita hamil mengalaminya." Begitu penjelasan dokter kandungan yang menangani istriku.
Namun, kadang galaknya kelewatan. Tidak hanya sebatas marah-marah. Tapi, sudah benci kepada suami. Laila Yasmin yang pendiam itu, tiba-tiba gampang meledak-ledak. Istriku menjadi benci setengah mati sama aku. Dia nggak mau, aku selalu berada di sampingnya.
"Pergi jauh-jauh dah. Kalau perlu jangan pulang. Atau tidur di luar saja. Jangan di kamar," pintanya kepadaku.
Baca Juga: Terancam Hukuman Berat, Pengacara Mario Dandy Tetap Sampaikan Alasan Meringankan
Terkadang aku bingung. Sulit membedakan, ini bawaan bayi atau curahan hati yang sudah membuncah, karena dia tak menginginkan kehamilannya.
Orang bilang, galak dan ngidamnya orang hamil itu bersifat substitusi atau saling menggantikan. Artinya, kalau dia ngidam, maka dia tidak cepat marah. Sebaliknya, kalau dia emosional, harusnya tidak ngidam.
Tapi, istriku nggak demikian. Ia marah-marah terus, tapi juga ngidam. Mintanya pun makanan yang aneh-aneh. Salah sedikit, dia langsung mencak-mencak. Emosinya membuncah tak karuan.
Suatu hari, dia minta mangga Manalagi yang masih mengkel alias setengah mateng. Padahal, sedang tidak musim buah mangga. Tapi karena ngidam, aku pun berusaha mendapatkan.
Aku cari-cari ke penjuru pasar tradisional dan supermarket. Tapi, hasilnya nihil. Setelah bersusah payah, akhirnya aku dapat mangga manalagi di toko buah. Tapi sudah mateng.
Sampai rumah, mangga dicobain sedikit, lalu dibuang. Katanya, tidak sesuai permintaan. Ujung-ujungnya, aku dimaki-maki dan disalahkan.
Baca Juga: Polusi Udara Jakarta Memburuk, Ini Cara Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan Polusi Kemenkes
Pernah juga, dia minta dibelikan ayam bakar di tempat warung pecel lele. Mintanya tengah malam, sekitar pukul 23.30 WIB. Aku cari kesana-kemari. Memang banyak warung pecel ayam pinggir jalan yang masih buka. Tapi, tak satupun yang jual ayam bakar.
Setelah lelah mencari ayam bakar di warung pecel lele dan tak menemukan, aku ke Rumah Makan Padang yang buka 24 jam. Alhamdulillah, ada ayam bakar. Aku belikan di situ.
Namun sampai di rumah, bukan ucapan terima kasih yang aku dapat. Lagi-lagi, dampratan dan makian. Ayam bakar Padang itu pun dia buang. Dia nggak doyan. Katanya, bumbunya beda dengan ayam bakar pecel lele.
Meski begitu, aku mencoba menerima. Aku mencoba beradaptasi dan bersabar. Berkali-kali aku mengelus dada. Mood istri yang naik turun seperti roller coaster, tetap aku hadapi dengan tenang dan senyuman.
Aku mencoba mencandai; "Kalau kamu marah-marah terus, nanti si dedek jadi mirip aku lho."
Bukannya mereda, eh emosinya malah memuncak. Aku sering dibuat bingung dengan sikapnya.
Tapi aku terus berupaya membahagiakan dia. Berusaha romantis dan memanjakannya. Meski seringkali sikapnya kepadaku membuat emosiku membuncah hingga ubun-ubun.
Untuk meredakan emosiku, aku ambil wudhu lalu shalat sunnah. Kalau mulutnya masih nerocos hingga membuat emosiku tak mau turun, aku menghindar dengan keluar rumah. Aku naik motor, putar-putar ibu kota tanpa tujuan.
Baca Juga: Saksi Gemetaran, Saat Ransel Dibuka Terlihat Bayi Perempuan Sudah Tak Bernyawa
Meski sikap istriku seperti itu, tapi tiap bulan aku selalu buat kejutan. Sesekali, setelah terima gaji, aku ajak istriku makan malam di luar. Di tempat yang romantis. Agar bisa bicara dari hati ke hati.
Di hari-hari istimewa, seperti ulang tahunku atau ulang tahun istriku, aku selalu sediakan kado istimewa. Aku juga berusaha memanjakan dia. Tak usah kerja. Tidak memasak. Tidak mencuci. Juga tidak menyetrika. Kerjanya cuma satu; menemaniku di atas ranjang.
Hampir setahun usia pernikahan kami, belum jua ada cinta. Segala upaya yang aku lakukan itu, belum membuahkan hasil. Sikap Laila Yasmin tetap sama; hanya jadi boneka seks untukku.
Kehamilan memang hanya berlangsung selama sembilan bulan. Tapi bagiku, seperti sembilan tahun. Karena menguras energi. Menguras emosi. Dan menguji batas akhir kesabaranku.
Tujuh bulan kehamilan istriku, aku diberitahu dokter bahwa anakku berjenis kelamin perempuan. Aku senang. Setiap malam aku berdo'a, memohon agar diberikan anak perempuan yang cantik; berkulit putih, berhidung mancung, bertubuh tinggi. Mirip dengan ibunya.
Do'aku ini banyak diamini orang. Setiap istriku jumpa tetangga, mereka selalu berkata: mudah-mudahan anaknya mirip ibunya, cantik dan solehah.
Baca Juga: 16 Tahun Beraksi, Copet Senior Spesialis KRL Ditangkap Polisi
Do'a yang sama juga dipanjatkan oleh keluarga dan kerabat Laila Yasmin. Setiap ketemu istriku, mereka selalu bertanya soal jenis kelamin bayi yang di kandungan. Istriku pun menjawab; insya'alloh perempuan.
Mereka mendo'akan; semoga cantiknya nurun dari ibunya. Aku dan istriku pun selalu mengaminkan. Aku sama sekali tak tersinggung.
Dalam setiap do'a, aku juga memohon agar kelak, putriku jadi anak yang solehah dan pintar. Seperti ayahnya. Dalam berdo'a, aku memintanya secara detil dan rinci. Agar Alloh juga mengabulkannya secara detail.
Delapan bulan telah terlewati. Rupanya, Alloh mempercepat beban kehamilan istriku. Bulan terakhir, pekan terakhir, dalam tahun Masehi, putriku terlahir ke dunia. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







