Jakarta

NOVEL BAG.91 : Depresi dan Percobaan Bunuh Diri

Sastra Yudha | 4 September 2023, 16:50 WIB
NOVEL BAG.91 : Depresi dan Percobaan Bunuh Diri

TENGAH malam. Aku baru pulang kerja. Malam ini aku ada liputan kegiatan pentas musik. Sebagai wartawan, aku memang tak punya jam kerja yang pasti.

Hari itu, acara pentas musik baru selesai jam 10 malam. Aku kembali ke kantor untuk menulis beritanya, baru pulang.

Sampai rumah, aku lihat putriku tidur sendirian. Aku tak melihat istriku di samping bayinya. Aku pikir, istriku sedang di toilet. Aku tunggu, namun kok tak kunjung keluar. Aku dorong pintu toilet, ternyata tak terkunci. Istriku pun tak ada di dalam.

Aku melangkah menuju dapur. Istriku jongkok di pojok dapur. Matanya merah. Tangannya gemetaran, memegang gelas. Aku segera menyergapnya.

"Sabar, Ma...! Istighfar, Ma... ! Jangan ikuti syetan...!"

Baca Juga: Asal Usul Batuampar Jakarta, Kisah Permintaan Pangeran dan Gadis Desa

Aku mendekap erat-erat tubuh istriku. Aku piting tangannya. Aku tendang botol berisi cairan pembasmi serangga. Juga gelas kaca yang dipegangnya. Hingga isinya berserakan di lantai dapur.

"Lepaskan aku....! Lepaskan....!" teriak istriku sambil meronta-ronta.

Semakin meronta, maka semakin keras aku memeluknya. Sehingga aku berhasil membopong dan membawanya ke kamar. Aku baringkan di atas ranjang.

"Biarkan aku mati....! Sudah tidak ada gunanya aku hidup...!" teriaknya sambil menangis.

"Jangan, Ma...! Jangan lakukan itu...! Jangan ikuti kemauan syetan...!" Aku kembali memeluk tubuhnya. Aku cium pipi dan keningnya.

"Kasihan aku, Ma...! Aku mencintaimu. Kasihan putri kita, Ma. Dia butuh kasih sayangmu."

Istriku terus menangis tersedu-sedu. Tangisannya membangunkan putriku. Melihat putrinya bangun, muncul naluri keibuannya. Ia berhenti menangis. Dipeluknya putri mungil kami.

"Iya, sayang...! Maafkan Mama ya sayang. Putri harus pintar, sayang...! Putri harus sehat...! Putri harus jadi anak yang solehah...!"

Baca Juga: 10 Tips Mengatasi Oversharing

Aku melongok ke jam dinding. Pukul 2.18 dini hari. Aku keluar. Pintu kamar tidur aku kunci dari luar. Aku ke dapur. Memasak air untuk menyeduh susu formula.

Ya, sejak ibunya sakit, Putri tak mau lagi minum ASI. Terpaksa aku kasih susu formula. Selama aku membuat susu, pintu kamar tidur terpaksa aku kunci. Aku khawatir, istriku kabur dan melanjutkan aksinya.

Selesai bikin susu, aku buka pintu kamar. Aku berikan susu ke istriku. Dia yang menyusukan. Aku kembali ke dapur, untuk membersihkan ceceran racun serangga. Pintu kamar pun kembali aku kunci.

Malam itu, aku tidak tidur. Aku jaga istriku yang tiap malam terjaga. Hingga saat pagi menjelang, ibu mertuaku datang. Aku titipkan istri dan putri kepada ibu mertua.

Sejak peristiwa tadi malam, semua benda-benda yang membahayakan aku singkirkan dari rumah. Racun, pisau, dan tali, aku sembunyikan rapat-rapat.

Baca Juga: Bukan Tilang Uji Emisi, Ini Saran Golkar DKI Tekan Polusi Udara di Jakarta

Aku tahu, istriku sedang depresi. Terbebani masalah yang sangat berat. Depresi karena hubungan cinta kami yang tak kunjung tumbuh berkembang, meski kami telah menikah.

Depresi karena penyakit tak jelas yang menggerogoti tubuhnya. Sudah tujuh rumah sakit yang kami datangi. Sudah sebelas dokter yang mengobati. Lima kali dirontgen, namun hasilnya sama: asma atau gangguan pernafasan. 

Berbagai usaha telah aku lakukan. Tak hanya berobat secara medis, tapi juga non-medis. Mulai dari Sin-She, thabib, orang pintar, dukun, paranormal, hingga suhu.

Berbagai tempat pengobatan aku datangi. Mulai Jakarta Utara, Tangerang, Pandeglang, Depok, Jakarta Timur, Bekasi, Cianjur, Majalengka, hingga Cirebon.

Berbagai macam ramuan pun telah aku berikan. Mulai dari akar-akaran hutan Kalimantan, rumput Fatimah dari Timur Tengah, rendaman kurma, semut Papua, kecoa madagaskar, lendir bekicot, hingga daging toke dan darah kobra.  

Baca Juga: Alasan Seseorang Oversharing, Gen Z Jangan Ikuti Ya

Inilah yang membuat istriku makin tertekan. Setelah sebelumnya alami depresi yang tejadi pasca melahirkan (postpartum).

Depresi postpartum adalah keadaan ketika seorang ibu merasakan rasa sedih, bersalah, dan bentuk umum depresi lainnya dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan. (Bersambung)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.