Jakarta Masih Hujan Meski Diprediksi El Nino, Gubernur Pramono Instruksikan Pengerukan Sungai

AKURAT JAKARTA - Gubernur Jakarta, Pramono Anung meminta jajarannya tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi periode El Nino mulai terjadi sejak akhir April hingga September 2026.
Pramono mengatakan kondisi cuaca belakangan masih menunjukkan curah hujan tinggi di Jakarta, bahkan sempat mencapai hampir 150 milimeter per hari hingga menyebabkan banjir di sejumlah wilayah.
"BMKG secara resmi sebenarnya sudah menyampaikan bahwa bulan April akhir sampai dengan September itu akan El Nino," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Namun, menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan hujan masih kerap turun dengan intensitas tinggi meski periode kemarau diprediksi mulai berlangsung.
"Tetapi kenyataannya beberapa kali masih hujan, termasuk yang kemarin dengan curah hujan yang hampir 150 milimeter per hari yang menyebabkan banjir," ujarnya.
Karena itu, Pramono mengaku telah menginstruksikan jajaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta dan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk mempercepat langkah antisipasi, termasuk pengerukan sungai di berbagai titik.
"Maka saya sudah memerintahkan kepada jajaran Bappeda, kemudian juga kepada Sumber Daya Air untuk tetap mengantisipasi dan melakukan pengerukan sungai-sungai yang ada supaya kita tidak seperti kemarin," tuturnya.
Politikus PDIP itu menilai kondisi cuaca yang tidak menentu harus diantisipasi serius agar banjir akibat saluran tersumbat maupun penumpukan sampah tidak kembali terjadi.
"Dan kemarin memang informasinya sudah El Nino, sudah kering, tapi ternyata hujan. Dan itu menyebabkan beberapa tempat yang sampah dan sebagainya menghambat, dan itu yang tidak boleh terjadi lagi," katanya.
Diketahui, pasca Konferensi Pers untuk Prediksi Musim Kemarau dan Prediksi El Nino tanggal 4 Maret 2026 yang lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (Z0M) di Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1POTRET BERINGIN JAKARTA: Dari Pengurus Pokja ke Pimpinan DPRD, Basri Baco Targetkan 13 Kursi dan Tiket Cagub DKI
- 2Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 5Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 6Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 7Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 8Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!









