Jakarta

Orang Tua Wajib Tahu! Komunikasi Keluarga Jadi Tameng Anak dari Konten Negatif Internet

Saeful Anwar | 4 Juni 2025, 13:52 WIB
Orang Tua Wajib Tahu! Komunikasi Keluarga Jadi Tameng Anak dari Konten Negatif Internet

AKURAT JAKARTA - Perkembangan teknologi yang pesat membuat anak-anak semakin akrab dengan internet dan media sosial. 

Namun, di balik manfaatnya, dunia maya juga menyimpan ancaman serius berupa konten negatif. 

Menurut Psikolog Klinis RSUD Wangaya Denpasar, Nena Mawar Sari, S.Psi., komunikasi keluarga — terutama peran orang tua — sangat penting untuk menekan dampak buruk tersebut.

"Menekannya kembali lagi kalau misalkan di luar sana apa pun menunya kita bersaing dengan apa yang ada di dalam rumah. Dalam artian bagaimana bentuk komunikasi dengan orang tuanya di rumah," kata Nena saat dihubungi dari Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (04/06).

Baca Juga: Jakarta Timur Temukan Kasus Positif COVID-19 di Mei 2025, Ini Imbauan Terbaru Dinkes

Internet Bisa Bermanfaat, Tapi Juga Berbahaya

Nena menjelaskan bahwa internet dan media sosial sebetulnya dapat menjadi sarana positif, tergantung bagaimana anak menggunakannya. 

Namun, penggunaan berlebihan dapat memicu kenakalan remaja hingga pergaulan bebas. 

Ia menekankan bahwa penyebab utamanya adalah beredarnya konten yang tidak disaring.

"Konten pembulian, konten yang berbau pornografi, dan juga tentang bagaimana orang boleh nge-roasting atau berbicara kasar dengan teman-temannya. Nah itu yang memicu kenakalan remaja," ujarnya.

Kemudahan mengakses aplikasi kencan juga menjadi celah yang memungkinkan anak berinteraksi dengan orang asing dan akhirnya menormalisasi perilaku menyimpang.

Anak-anak pun bisa bertukar informasi negatif tentang balap liar, narkoba, hingga pornografi.

Baca Juga: Pemkab Tangerang Luncurkan Mobile Training Unit untuk Pelatihan Tata Busana dan Otomotif, Jangkau Wilayah yang Jauh dari Pusat Pelatihan

Anak Butuh ‘Rumah’ yang Aman

Menurut Nena, salah satu alasan anak terjerumus dalam kenakalan remaja adalah karena mereka merasa tidak memiliki tempat yang aman di rumah. 

Dengan komunikasi yang baik dan penuh kasih sayang dari orang tua, anak akan memiliki kemampuan menyaring informasi dari luar.

"Apa pun yang ada di luar sana kita gak bisa kontrol. Tapi dengan kasih sayang dan perhatian penuh dari orang tua dan komunikasi yang baik, buat anak-anak itu menjadi lebih punya filter. Misalnya dia ditawari konten pornografi atau ditawari narkoba, dia akan berpikir 'kayaknya orang tua saya gak setuju deh kalau saya melakukan itu'," imbuhnya.

Kenali Tanda Anak Mulai Terpapar

Orang tua juga perlu waspada terhadap perubahan sikap anak. Nena mengungkapkan bahwa tanda-tanda anak terpengaruh konten negatif bisa berupa enggan berkomunikasi, lebih sering mengurung diri, nilai pelajaran menurun, dan emosi yang tidak stabil.

Selain itu, ada gejala psikologis seperti mudah marah, tidur terganggu, hingga insomnia.

Baca Juga: Transjabodetabek Rute Lebak Bulus-Sawangan Resmi Dibuka Mulai Hari Ini, Berikut Rincian Tarif dan 11 Titik Pemberhentiannya

Solusi: Kolaborasi Edukatif dan Nilai Pancasila

Nena mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lebih banyak konten edukatif berbasis nilai-nilai Pancasila. 

Ia menekankan pentingnya penanaman nilai spiritual dan keagamaan di rumah sebagai pondasi moral anak.

"Sila-sila dari Pancasila yang lainnya itu menjadi alat pemersatu, kemudian juga bisa menjadi alat berdiskusi. Saya harapkan semoga konten-konten untuk remaja itu lebih banyak adalah hal-hal edukatif," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya kejelasan regulasi hukum dalam menangani kasus perundungan digital.

"Supaya pembulian tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental melalui konten negatif dan lain sebagainya itu bisa ditekan melalui Undang-Undang ITE yang lebih jelas lagi," kata dia.

Baca Juga: Catat! Yura Yunita, Sal Priadi, dan for Revenge Bakal Meriahkan Sound of Flawless Vol.2 di Lapangan Bandara Lama Jambi, Cek Tanggal dan Harga Tiketnya

Melindungi anak dari pengaruh buruk internet bukan hanya soal membatasi akses, tapi memperkuat komunikasi, kasih sayang, dan nilai-nilai moral di dalam rumah. Peran aktif orang tua menjadi benteng utama dalam menciptakan generasi digital yang sehat dan beretika. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.