Jakarta

Asal Usul Ngabuburit Saat Ramadan, Ternyata Bukan Sekadar Tunggu Buka Puasa!

Anggerhana Denni Rahmawati | 21 Februari 2026, 08:00 WIB
Asal Usul Ngabuburit Saat Ramadan, Ternyata Bukan Sekadar Tunggu Buka Puasa!

AKURAT JAKARTA - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda yang dirindukan umat Muslim.

Selain menjalankan ibadah puasa, momen menjelang berbuka atau yang dikenal dengan ngabuburit menjadi tradisi yang melekat di masyarakat.

Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengisi waktu sore, mulai dari kegiatan religi hingga berburu jajanan khas Ramadan.

Baca Juga: Tetap Segar Tanpa Kopi, Coba 3 Pilihan Minuman Ini Saat Sahur

Arti Istilah Ngabuburit

Secara umum, ngabuburit diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.

Kegiatan ini bisa berupa membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian, hingga berjalan-jalan mencari takjil.

Baca Juga: Dari yang Mahal hingga Ekonomis, Ini 6 Kurma Favorit Orang Indonesia

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa istilah ini berasal dari bahasa Sunda.

Dalam bahasa Sunda, kata dasar “burit” berarti petang atau sore hari.

Sementara awalan “nga” menunjukkan bentuk kata kerja.

Baca Juga: Tinggal di Jakarta? Ini Tantangan Saat Membangun atau Renovasi Rumah, Temukan Solusinya di Sini

Jadi, ngabuburit merujuk pada aktivitas yang dilakukan untuk menyongsong waktu sore.

Menurut Kamus Bahasa Sunda Lembaga Bahasa Sastra Sunda (LBSS), istilah ini berasal dari kalimat “ngalantung ngadagoan burit” yang berarti bersantai sambil menunggu waktu sore.

Dari sinilah istilah ngabuburit berkembang dan dikenal luas, terutama saat Ramadan.

Baca Juga: Relevansi Tes Genomik Meningkat, Layanan Medis Personalisasi Jadi Kebutuhan Masa Depan

Asal-Usul dan Perkembangannya

Istilah ngabuburit sudah muncul sejak Islam masuk ke tanah Sunda.

Pada masa lalu, anak-anak mengisi waktu sore dengan permainan tradisional seperti bebeledugan atau meriam bambu.

Baca Juga: Daging Olahan dan Risiko Kanker: Kenali Bahayanya, Ubah Pola Makan Keluarga

Suasana sore Ramadan kala itu terasa sederhana namun penuh kebersamaan.

Seiring waktu, makna ngabuburit semakin meluas.

Berkat paparan media dan interaksi antarbudaya, istilah ini akhirnya dikenal secara nasional dan menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.

Baca Juga: Rebusan Nanas dan Kunyit: Ramuan Herbal Alami Anti-Inflamasi hingga Detoks Hati

Kini, ngabuburit identik dengan aktivitas santai sebelum berbuka.

Aktivitas Ngabuburit Masa Kini

Berbeda dari masa lalu, aktivitas ngabuburit sekarang lebih beragam.

Baca Juga: Rebung, Superfood Kaya Serat yang Baik untuk Jantung dan Cegah Risiko Kanker

Banyak orang memilih menyusuri pasar Ramadan atau pasar kaget yang bermunculan selama bulan puasa.

Aneka makanan dan minuman khas berbuka puasa menjadi daya tarik tersendiri.

Meski begitu, esensi ngabuburit tetap sama, yaitu mengisi waktu menjelang magrib dengan kegiatan yang menyenangkan atau bermanfaat.

Baca Juga: Ngabuburit Lebih Berkah, Ini 4 Cara Produktif Menunggu Azan Magrib

Kamu bisa memilih aktivitas sesuai minat, baik yang bernuansa religius maupun sekadar bersantai bersama keluarga dan teman.

Dengan memahami asal usulnya, kamu tidak hanya menikmati tradisi, tetapi juga menghargai nilai budaya yang melekat dalam setiap momen Ramadan. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.