SETELAH prosesi lamaran, bukan berarti telah tuntas semua urusan. Ini baru langkah awal. Masih banyak yang harus aku perjuangkan.
Sepekan setelah bertunangan, aku kembali datang ke rumah Laila. Untuk membicarakan hari pernikahan.
Kebetulan, esok hari dia berulang tahun. Yang ke-20. Aku bawakan kue tar dan setangkai mawar merah.
"Assalamualaikum..." saat aku sampai rumah Laila.
"Waalaikum salam. Silahkan masuk." Suara wanita yang menjawabnya.
Pintu dibuka. Ibunya yang keluar. "Eh, Nak Rahman. Silahkan duduk."
Aku duduk di kursi kayu. Tanpa meja tamu. Untuk menyiasati ruang tamu yang sempit.
"La...!! Ada Rahman nih." Ibunya memanggil tunanganku.
"Iya, Ma." terdengar jawaban wanita dari dalam kamarnya.
"Tunggu, ya..! Laila lagi ganti baju," kata ibunya.
Baca Juga: Bongkar Sindikat Penjualan Senpi Ilegal, Salah Satu Pelaku Residivis Penyuplai Teroris
Aku menunggu di ruang tamu. Memangku kue tar. Memegangi bunga mawar. Cukup lama aku menunggu. Sekitar 10 menit. Tapi yang ditunggu tak kunjung keluar menemuiku.
Hanya nyamuk-nyamuk liar yang menyiksaku. Menggigit kaki. Sepertinya nyamuk tahu, aku tak bisa membunuhnya. Menepoknya. Karena kedua tanganku memegang erat kue tar dan mawar merah. Aku hanya bisa menggerak-gerakkan kaki agar dia pergi, lalu kembali lagi. Begitu berulang kali.
Setelah nyamuk-nyamuk malam itu kenyang, Laila keluar menemuiku. Ogah-ogahan. Tanpa hiasan. Tanpa riasan. Masih mengenakan baju malam. Hanya ditutup jaket sweater dan jilbab panjang.
"Selamat ulang tahun, Laila. I love you." ucapku sambil menyerahkan kue tar dan bunga mawar.
"Terima kasih." Hanya itu kata yang terucap dari mulutnya.
Dia terima kue tarnya. Dibawa masuk. Lalu, ia kembali keluar. Dia biarkan mawar merah tergeletak di kursi tamu. Tak disentuh. Apalagi dirawat.
"Ada apa kamu ke sini?" tanyanya dengan wajah datar.
"Ya, mau ngomongin persiapan kita?"
"Persiapan apa?"
"Ya, persiapan nikah lah." jawabku. "Kapan tanggal pernikahan? Di mana resepsinya? Pakai adat apa? Dan lain-lainnya."
Baca Juga: TNI-Polri Berhasil Bongkar Jual Beli Senjata Ilegal, Diamankan 44 Senpi dan Ribuan Peluru
"Oh, kalau itu, kamu bicarakan dengan orangtuaku saja ya. Aku mau tidur. Ngantuk banget."
"Iya. Tapi dengan kamu juga dong. Kan kita yang mau nikah."
"Tapi jangan lama-lama ya..!"
Laila masuk ke dalam. Tak lama, ia keluar bersama ibunya. Kami bertiga membicarakan rencana pernikahan dan segala tetek-bengeknya.
Banyak hal yang harus aku penuhi: resepsi harus di gedung. Harus pakai adat budaya Betawi. Mulai dari serah-serahan, uang belanja, seperangkat ranjang tidur, almari, cermin, mas kawin emas 20 gram dan lain-lain.
Saat resepsi, harus ada pelampang. Palang pintu. Prasmanan dan lain sebagainya. Total biaya yang dibutuhkan sekitar 25 juta. Itu belum termasuk mas kawin atau mahar.
Semuanya harus aku yang tanggung. Lumayan besar. Setara dengan gajiku selama dua tahun. Darimana aku bisa dapatkan duit sebanyak itu? Tapi, aku tetap menyanggupi.
"Insya'alloh, akan saya usahakan, Bu. Tapi, saya nggak bisa cash. Akan saya cicil, sesuai dengan prioritas kebutuhan ya.." kataku pada ibunya.
"Ya, nggak apa-apa." katanya.
Baca Juga: Korban Dituduh Nantang Duel, Jadi Motif Penganiayaan Remaja di Jagakarsa
Aku pulang dengan beban berat. Beban pikiran. Di sepanjang jalan pulang, aku kepikiran terus; bagaimana cari uang sebanyak itu. Hingga aku sadari, tadi belum disepakati kapan hari pernikahan akan dilaksanakan.
Waktu baru menunjukkan pukul 9 malam. Aku pun putuskan untuk kembali ke rumah Laila. Semua urusan harus aku tuntaskan malam ini. Supaya aku segera bisa menyusun rencana. Planing. Melakukan step by step.
"Assalamualaikum," aku uluk salam. Karena pintu sudah tertutup lagi.
Aku melirik ke arah kursi. Tak kulihat lagi setangkai bunga mawar tadi. Mungkin, Yasmin telah membawanya untuk menemani ke alam mimpi. Aku senang.
"Wa'alaikum salam." Jawab ibunya dari dalam. Derap langkah kaki terdengar makin nyaring. Berhenti bersamaan saat pintu rumah terbuka.
"Loh, kok kembali lagi. Ada yang ketinggalan ya.?"
"Iya, Bu. Soal tanggal pernikahan, tadi belum kita bicarakan."
"Oh....ibu terserah kamu saja."
"Tahun depan ya, Bu? Karena Rahman harus mempersiapkan dulu."
"Kok tahun depan? Lama amat? Menurut ibu, lebih cepat lebih baik. Tapi ya, tergantung kesiapan kamu."
"Kasih waktu saya enam bulan ya, Bu. Untuk mempersiapkan semuanya?"
"Jadi, jatuhnya bulan apa tuh?"
"Februari, tahun depan."
"Ya, oke. Mudah-mudahan lancar."
"Aamiin....baik, terima kasih, Bu. Saya pamit."
Aku balik badan. Melangkah keluar rumah. Sejenak, langkahku terhenti. Tatapan mataku terpaku pada setangkai mawar merah yang terhempas lemah di tong sampah. Aku beristighfar. (Bersambung)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 2Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 3POTRET BERINGIN JAKARTA: Dari Pengurus Pokja ke Pimpinan DPRD, Basri Baco Targetkan 13 Kursi dan Tiket Cagub DKI
- 4Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 5Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 6Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 7Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 8Prediksi Skor Sunderland vs Brentford di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Misi Bangkit demi Tiket Perempat Final
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







