Asal-usul Nama Kampung di Jakarta, dari Kampung Bandan hingga Karet Tengsin, Saksi Bisu Kekejaman Kompeni Zaman Dulu

AKURAT JAKARTA - Jakarta merupakan kota metropolitan di Tanah Air yang identik dengan gedung-gedung pencakar langit, bangunan-bangunan megah, dan mobilitas penduduk yang sangat tinggi.
Sebagai kota besar, bagi masyarakat Indonesia yang belum pernah pergi ke Jakarta mungkin tidak tahu bahwa ada banyak nama tempat di Jakarta yang menggunakan nama-nama kedaerahan.
Misalnya saja, Kampung Bandan, Kampung Bali, Kampung Ambon dan lain-lain.
Baca Juga: Sejak Kapan Kamu Tahu Manggarai di Jakarta Diambil dari Nama Daerah di NTT?
Nah, kehadiran nama-nama tempat di Jakarta yang menggunakan identitas kedaerahan ini tidak terlepas dari peran Bangsa Belanda pada masa penjajahan.
Lilie Suratminto pada artikel berjudul Nama-nama Tempat di Jakarta dan Kaitannya dengan Masa Kolonial mengungkap asal-usul nama-nama kampung Jakarta.
1. Kampung Bandan
Baca Juga: Dishub DKI Jakarta Kaji Usulan Kenaikan Tarif Bus Transjakarta yang Tak Berubah Sejak Tahun 2007
Kampung Bandan berasal dari kata Banda ditambah sufiks -an, yang berarti tempat orang-orang Banda.
Nama Kampung Bandan tidak pernah berubah sejak masa kolonial.
Sejarah berdirinya Kampung Bandan berawal saat Kompeni menerapkan monopoli rempah-rempah (pala dan fuli) di Kepulauan Banda pada 1621.
Baca Juga: 8 Langkah Mencegah Depresi, Nomor Terakhir Sebenarnya Ringan, tapi Bisa Terasa Berat untuk Dijalankan
Namun, kebijakan Belanda ini ditentang oleh penduduk asli Kepulauan Banda.
Karena marah mendapat penentangan dari orang-orang Kepulauan Banda, Jan Pieterszoon melakukan genosida di sana.
Nah, sisa penduduk yang selamat dari genosida ditangkap, kemudian ditempatkan ke permukiman yang sekarang kita sebut Kampung Bandan.
Baca Juga: 30 Tips Sehat di Usia yang Tidak Muda Lagi, Resep Penting Bagi Para Lansia!
2. Kampung Bali
Pada abad 17, Kompeni membutuhkan banyak sekali serdadu pribumi untuk menjaga keamanan Kota Batavia.
Para serdadu ini sewaktu-waktu juga diperlukan untuk berperang di berbagai daerah di Nusantara.
Kebanyakan serdadu itu didatangkan dari Sulawesi, Maluku, Nusatenggara, terutama Bali.
Baca Juga: Waspada! Ini Gejala-gejala Orang Mengalami Depresi, Dari Mudah Lelah hingga Merasa Tidak Berguna
Mereka ditempatkan di tempat yang sekarang dikenal sebagai nama Kampung Bali.
Sebagian besar dari mereka tinggal di berbagai tempat, misalnya di Angke, Krukut Tanah Abang, Tambora, dan Mester.
Selain mendatangkan serdadu, Kompeni juga juga mendatangkan banyak budak.
Baca Juga: Banjir yang Merendam Jakarta Sejak Kamis Pagi Sudah Mulai Surut
Pada masa itu, budak yang paling diminati berasal dari Bali, karena mereka pekerja keras dan wanitanya juga cantik-cantik.
Di Jakarta, banyak kosakata Bali yang masuk dalam
bahasa Melayu Betawi, seperti jidad (dahi), bianglala(pelangi), lantas (lalu), menyungkur (tersungkur), iseng (tidak serius, sambil lalu) ngebet dan (sangat ingin).
Imbuhan –in, seperti pada diambilin juga diserap dari Bali.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Gubernur Independen Jakarta Dibuka 5 Mei 2024, Bagaimana Syaratnya?
3. Kampung Makasar
Kampung ini berasal dari tawanan perang dari Makasar setelah Sultan Hasanuddin dikalahkan VOC, pada 1667.
Mereka diangkut ke Batavia dan ditempatkan di Jakarta Timur.
Baca Juga: Faktor Usia dan Fertilitas Ternyata Bisa Menjadi Salah Satu Penyebab Susah Hamil, Simak Penjelasannya
Komunitas Makasar di bawah Daeng Matara ini bekerja untuk Kompeni.
4. Kampung Bugis
VOC menyerahkan secara resmi Kampung Bugis pada Aru Palaka dari kerajaan Sopeng, Sulawesi Selatan, yang menjadi sekutu Kompeni melawan kerajaan Gowa pimpinan Sultan Hasanuddin.
Baca Juga: Aurelie Moeremans sempat Dilanda Depresi Akut, Rasanya Seperti Dikuntit Awan Mendung Tak Berkesudahan
Kampung Bugis ini berlokasi di sebelah utara Jalan Tubagus Angke, Jakarta Utara dan di sebelah kampung Gusti
(permukiman orang Bali).
Namun, di sebelah utara Tanah Abang, juga ada Kampung Bugis, yang diberi nama Petojo.
5. Kampung Ambon
Baca Juga: Dugaan Perselingkuhan, Istri Lettu Agam Disebut Sejak Awal Umbar Masalah Keluarga ke Media Sosial
Kampung Ambon yang berlokasi di dekat Pulogadung telah ada sejak 1619.
Kampung itu berdiri karena saat itu, Gubernur Jendral VOC, JP Coen, sedang menghadapi persaingan dengan Inggris.
Untuk memperkuat tentara, VOC merekrut orang Ambon dan membawa mereka bermukim di tempat yang kini menjadi Kampung Ambon.
Baca Juga: Resep Sayur Asem, Masakan Rumahan yang Segar dan Menyehatkan
Sejak 1656, banyak orang Ambon datang ke Batavia, salah satunya, Kapten Yonker.
Kapten Yongker berasal dari Ambon membantu Belanda guna berperang di Srilangka dan Timor.
Setelah itu, Kapten Yongker berbalik melawan Belanda karena merasa sakit hati.
Baca Juga: Wow, Selama Libur Lebaran Jakarta Hasilkan 886Ton Sampah
6. Kampung Petojo
Kampung Petojo merupakan tempat tinggal Arung Pattojo atau Aru Patuju dari Sopeng, Sulawesi Selatan.
Aru Patuju adalah teman seperjuangan dan utusan Aru Palaka yang belakangan bergabung bersama dengan tentara Kompeni.
Baca Juga: Duh Gusti Enak Banget, Resep Gulai Cincang Sengkel, Dijamin Makan Sukses!
Ada yang bilang Kampung Petojo diambil dari nama komandan Belanda, Petuju Jongker.
Pada masa Hindia Belanda, di Petojo berdiri pabrik es pertama di Batavia, yaitu Pabrik es Petojo.
Belakangan, pabrik ini juga membuka cabangnya di Solo Jawa Tengah.
Baca Juga: Gunung Ruang Meletus Pukul 16.00, Sebanyak 828 Warga Diselamatkan di Tempat Aman
7. Kampung Melayu
Tempat ini menjadi permukiman orang Melayu pada abad ke-17 yang berasal dari Semananjung Malaka --sekarang Malaysia-- di bawah pimpinan Kapten Wan Abdul Bagus.
Wan Abdul Bagus bergabung dengan Kompeni melawan Pangeran Trunojoyo dan juga Sultan Ageng Tirtayasa.
Baca Juga: Resep Masak Kikil Cabe Ijo yang Gurih dan Pedas, Cocok Buat Lauk Makan Siang Saat Tanggung Bulan
8. Karet Tengsin
Karet Tengsin merupakan kampung yang berada di wilayah Tanah Abang.
Nama ini berasal dari seorang Cina, Teng Sien, yang terkenal karena suka membantu masyarakat sekitar kampung.
Baca Juga: Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS Khusus Penempatan IKN, Tersedia 200 Ribu Formasi
Saat Teng Sien meninggal banyak masyarakat yang melayat, bahkan dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Berhubung di wilayah itu banyak ditanami pohon karet, jadilah nama kampung itu menjadi Karet Tengsin.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Getafe di La Liga, 25 Oktober 2026: Mampukah Los Leones Akhiri Tren Negatif?
- 2Prediksi Skor Cagliari vs Bologna di Serie A, 24 Oktober 2026: Siapakah yang Akan Kembali ke Jalur Kemenangan?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Frosinone di Serie A, 25 Oktober 2026: Misi La Dea Menghentikan Kejutan Tim Promosi
- 4Prediksi Skor Genoa vs Venezia di Serie A, 25 Oktober 2026: Mampukah Lagunari Lanjutkan Kejutan?
- 5Prediksi Skor Crystal Palace vs Newcastle United di Premier League, 25 Oktober 2026: Mampukah The Eagles Manfaatkan Kerapuhan Pertahanan The Magpies?
- 6Prediksi Skor Alaves vs Malaga di La Liga, 24 Oktober 2026: Misi Bangkit Tuan Rumah di Tengah Ancaman Zona Bawah
- 7Prediksi Skor Torino vs AC Monza di Serie A, 24 Oktober 2026: Mampukah Il Toro Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Real Sociedad vs Levante di La Liga, 26 Oktober 2026: Mampukah La Real Lanjutkan Tren Kemenangan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!








