Jakarta

NOVEL BAG.83 : Ujian Jelang Hari Pernikahan.

Sastra Yudha | 24 Agustus 2023, 20:27 WIB
NOVEL BAG.83 : Ujian Jelang Hari Pernikahan.

 

KURANG dari sepuluh menit perjalanan, aku sudah sampai rumah Laila Yasmin.

Sebelum uluk salam, aku atur nafas dulu. Aku turunkan tensi. Aku perbanyak istighfar. Agar emosiku tak meledak di depan calon mertua. Agar aku bisa menjelaskan duduk perkaranya dengan tenang dan terang.

"Assalamualaikum, Bu..."

Tak ada jawaban. Aku melirik ke jam dinding, waktu menunjukkan pukul 11.15 malam. Mungkin penghuni rumah sudah tidur semua.

Tok...tok...tok...!

"Assalamualaikum, Bu." Aku mengetok pintu, lalu salam.

"Wa'alaikum salam. Siapa ya..?" Jawab ibu.

"Rahman, Bu."

Pintu dibuka.

"Oh, Nak Rahman. Ada apa kok balik lagi?"

"Anu, Bu. Laila"

"Kenapa Laila?"

"Saya sudah ketemu. Laila lagi sama cowok di rumah makan, di Batu Sari."

Baca Juga: 8 Tips Mencegah Sembelit atau Sulit Buang Air Besar

"Cowok, siapa? Lagi ngapain di sana?"

"Nggak tahu, Bu. Ngakunya sih, pacarnya Laila."

"Astaghfirulloh al'adziim....!! Bikin ulah apalagi anakku...?! Udah mau nikah kok ya malah bikin ulah."

Ibu calon mertuaku tampak panik, bingung, dan kalut. Ia hampir saja membangunkan suaminya atau anak laki-lakinya, untuk menyusul dan melabrak Laila dan cowoknya. Tiba-tiba ada yang memberi salam.

"Assalamualaikum." Terdengar lirih.

Laila datang. Sendirian. Tak ada cowok yang tadi bersamanya.

Ia menunduk. Masuk teras rumah, lalu duduk.

"Darimana kamu...!" bentak ibunya.

Laila Yasmin tidak menjawab. Ia tetap menunduk.

"Sama siapa? Jam segini baru pulang."

Laila tetap membisu.

Baca Juga: Catat! Ini Lokasi Razia Tilang Uji Emisi Kendaraan Digelar Mulai Besok

"Kamu jangan bikin malu keluarga. Kalau kamu nggak suka, kenapa nggak ngomong. Sebentar lagi kamu mau nikah. Jangan berulah macam-macam ya..!" Bentak ibunya. Volume suaranya makin meninggi. Membangunkan seisi rumah.

Ayahnya ikut keluar. "Ada apa sih?" tanya ayahnya sambil mengucek mata.

"Lihat tuh kelakuan putrimu, Bi..! Nikah tinggal beberapa hari, malah pacaran sama cowok lain. Bikin malu keluarga saja."

Sebelum suasana makin runyam, aku ambil suara.

"Ibu, bapak, Rahman minta maaf. Lebih baik kita bicarakan masalah ini baik-baik. Jangan dimarahi. Ngak enak, kedengaran tetangga."

Suasana kembali hening. Hanya terdengar lirih tangis Laila Yasmin.

"Rahman cuma minta kepastian. Apa pernikahan mau dilanjutkan atau tidak. Kalau tidak, ya nggak apa-apa. Tapi, Rahman minta semua yang sudah Rahman berikan, agar dikembalikan."

"Ya harus lanjut lah..! Nggak bisa dibatalkan. Mau ditaruh mana muka Abi dan Umi..!" sergah ibunya.

"Jangan dipaksakan, Bu. Berikan kesempatan Laila untuk menjawab."

Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Cilincing dari Nama Anak Sungai

Aku mencoba bijak. Padahal, dalam hati khawatir juga kalau-kalau Laila membatalkan pertunangan. Pernikahan yang sudah di depan mata, bisa jadi bubar berantakan.

Tapi, sebagai laki-laki, aku harus punya harga diri. Tak sudi aku direndahkan oleh cowok lain.

"Jawab, Laila..!" bentak ibunya.

Laila Yasmin hanya mengangguk.

"Iya, apa..?!" bentak ibunya lagi. "Iya, lanjut..?"

Gadis keturunan Arab itu kembali mengangguk.

"Awas, kalau bikin ulah macam-macam lagi. Ingat, jangan bikin malu orangtua. Denger apa nggak...!?"

Laila kembali mengangguk.

Prahara selesai.

Sesaat kemudian, Laila bangkit dari duduk. Bergegas masuk kamar.

Aku pun berpamitan. Pulang. (Bersambung)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.